BRIN Gandeng Profesional Muda dari 41 Negara, Ada Misi Apa?

Agenda Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 kan berlangsung pada 19-24 Oktober di Gedung B.J. Habibie BRIN M.H. Thamrin, Jakarta agenda Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 yang akan berlangsung pada 19-24 Oktober

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi sains global dengan menghadirkan profesional muda dari 41 negara.

Bersama Asia-Europe Foundation (ASEF) dan Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) melalui agenda Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 yang akan berlangsung pada 19-24 Oktober, inisiatif ini menjadi ruang untuk memperluas jejaring internasional, mendorong pertukaran pengetahuan, serta membuka peluang kolaborasi di bidang sains dan teknologi.

Adapun kegiatan tersebut mempertemukan 59 profesional muda dari 41 negara di Asia dan Eropa. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat posisi dalam kerja sama internasional melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Diplomasi sains merupakan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung hubungan antarnegara, membangun kepercayaan, serta mencari solusi bersama terhadap berbagai persoalan lintas batas. Melalui forum internasional, Indonesia memiliki kesempatan memperkenalkan kapasitas riset nasional sekaligus mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan dari negara lain.

Penguatan diplomasi sains tidak hanya bergantung pada kualitas penelitian, tetapi juga pada kemampuan menyampaikan hasil riset agar dipahami oleh pembuat kebijakan, mitra internasional, dan masyarakat luas.

Direktur Penguatan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Joannes Ekaprasetya Tandjung, menekankan pentingnya komunikasi sains dalam membangun kolaborasi global. Dalam kegiatan Short Course on Science and Technology Diplomacy di Jakarta pada September lalu ia mengatakan,

“Nilai seorang periset tidak hanya ditentukan oleh invensinya, tetapi juga oleh kemampuannya mengkomunikasikan hasil invensi tersebut kepada masyarakat, termasuk masyarakat internasional,” jelas Joannes.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hasil penelitian perlu dikomunikasikan secara efektif agar dapat membuka peluang kerja sama dan memberikan manfaat yang lebih luas. BRIN juga menilai diplomasi sains penting untuk merespons tantangan bersama, seperti pandemi, perubahan lingkungan, dan kebutuhan pengembangan teknologi kesehatan.

Keterlibatan profesional muda dari puluhan negara diharapkan memperluas jaringan kerja sama dan mendorong pertukaran pengalaman lintas negara. Kolaborasi semacam ini berpotensi mendukung pengembangan riset bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Bagi Indonesia, diplomasi sains juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi riset nasional di tengah persaingan teknologi global. Namun, keberhasilan upaya tersebut pada akhirnya bergantung pada tindak lanjut konkret, termasuk kemitraan penelitian, pertukaran pengetahuan, dan penerapan hasil inovasi.

Melalui penguatan diplomasi sains, BRIN berupaya menjembatani kemampuan riset Indonesia dengan kebutuhan kolaborasi internasional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan negara mitra.