5 Masalah Kesehatan Mental yang Banyak Dialami Perempuan Indonesia

Gangguan kecemasan menjadi masalah kesehatan mental yang paling banyak dikonsultasikan oleh perempuan usia produktif di Indonesia, menurut laporan Indonesia Health Insights Report 2026 "Navigating Indonesia's Mental Health Landscape" yang dirilis Halodoc pada Oktober 2026/Foto : Dok. Istimewa Gangguan kecemasan menjadi masalah kesehatan mental yang paling banyak dikonsultasikan oleh perempuan usia produktif di Indonesia, menurut laporan Indonesia Health Insights Report 2026 "Navigating Indonesia's Mental Health Landscape" yang dirilis Halodoc pada Oktober 2026/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Gangguan kecemasan menjadi masalah kesehatan mental yang paling banyak dikonsultasikan oleh perempuan usia produktif di Indonesia. Temuan ini terungkap dalam Indonesia Health Insights Report 2026 bertajuk “Navigating Indonesia’s Mental Health Landscape” yang dirilis Halodoc pada Oktober 2026.

Berdasarkan data dalam laporan tersebut, terdapat lima kategori masalah kesehatan mental yang banyak dikonsultasikan perempuan berusia 18–54 tahun. Gangguan kecemasan menempati posisi pertama dengan proporsi 41 persen, disusul depresi sebesar 15 persen.

Berikut lima kategori masalah kesehatan mental yang menjadi sorotan:

1. Gangguan kecemasan (41 persen). Kategori ini menempati urutan pertama. Keluhan yang menyertai dapat berupa kekhawatiran berlebihan, jantung berdebar, sesak napas, hingga gangguan tidur.

2. Depresi (15 persen). Masalah ini dapat berkaitan dengan suasana hati yang terus menurun, kehilangan minat, dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

3. Masalah keluarga dan relasi (11,4 persen). Persoalan hubungan asmara, konflik rumah tangga, perselingkuhan, dan hubungan dengan orang tua dapat menjadi sumber tekanan emosional.

4. Reaksi stres (9,1 persen). Tekanan dari pekerjaan, pendidikan, maupun perubahan hidup dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.

5. Gangguan kepribadian (4,8 persen). Kategori ini berkaitan dengan pola pengalaman batin dan perilaku yang menetap serta dapat mengganggu hubungan sosial atau fungsi sehari-hari.

Angka tersebut menggambarkan kategori konsultasi dalam data Halodoc, bukan prevalensi gangguan kesehatan mental pada seluruh perempuan Indonesia. Karena itu, persentase ini tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa 41 persen perempuan Indonesia mengalami gangguan kecemasan.

Laporan Halodoc menunjukkan bahwa tantangan kesehatan mental pada perempuan usia produktif dapat berkaitan dengan kombinasi depresi dan persoalan relasi. Secara lebih luas, tekanan keluarga, tuntutan akademik, pekerjaan, dan hubungan interpersonal dapat menjadi faktor yang mendorong seseorang mencari bantuan profesional.

Psikolog mitra Halodoc, Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., mengingatkan pentingnya mengenali perubahan emosi dan perilaku sejak dini.

“Ketika dihadapkan tugas-tugas perkembangan tersebut di masing-masing usia, kemudian individu ini memaknakan tugas tersebut sebagai sesuatu yang mengancam, sesuatu yang sulit, nah di situlah muncul pikiran-pikiran irasional pada akhirnya. Dan lebih jauh lagi nanti akhirnya menjadi gangguan kecemasan,” ujar Miki, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan mengenai laporan Halodoc.

Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan laporan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami pola kebutuhan layanan kesehatan mental.

“Kami berharap laporan ini dapat mendukung pemetaan pola akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental sesuai kebutuhan, meningkatkan kesadaran yang lebih luas, serta membantu masyarakat Indonesia mengambil langkah pertama yang tepat, khususnya saat memerlukan bantuan profesional,” kata Fibriyani dalam pernyataan yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Jika kecemasan, stres, atau perubahan suasana hati mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh dukungan yang sesuai.