Jakarta, GPriority.co.id – Pengeluaran masyarakat Indonesia untuk rokok dan tembakau masih tergolong tinggi. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata belanja rokok dan tembakau mencapai Rp94.180 per kapita per bulan pada Maret 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebesar Rp91.708.
Dilansir dari laporan CNBC Indonesia pada Selasa (13/10), menunjukkan pengeluaran rokok melampaui belanja sejumlah bahan pangan, termasuk padi-padian dan daging. Pada Maret 2026, rata-rata pengeluaran untuk padi-padian tercatat Rp92.141 per kapita per bulan, sedangkan pengeluaran untuk daging mencapai Rp40.352.
Meski demikian, angka tersebut tidak berarti belanja rokok lebih besar daripada keseluruhan pengeluaran makanan masyarakat. Data BPS mencatat total pengeluaran makanan rata-rata mencapai Rp825.308 per kapita per bulan pada Maret 2026.
Konsumsi Rokok Kretek Filter Mendominasi
BPS juga mencatat persentase konsumsi rokok meningkat dari 67,06 persen pada Maret 2025 menjadi 67,59 persen pada Maret 2026. Rokok kretek filter menjadi jenis yang paling banyak dikonsumsi, dengan persentase mencapai 48,56 persen.
Temuan ini memperlihatkan besarnya porsi pengeluaran rokok dalam pola konsumsi rumah tangga Indonesia. Di tengah kebutuhan untuk memenuhi asupan gizi, pengeluaran untuk produk tembakau tetap menjadi salah satu komponen belanja yang menonjol.
Namun, data pengeluaran tersebut perlu dipahami secara proporsional. Besarnya belanja rokok tidak secara langsung menjelaskan alasan seseorang merokok ataupun kondisi gizi setiap rumah tangga. Pendapatan, harga barang, jumlah anggota keluarga, dan kebiasaan konsumsi dapat memengaruhi alokasi pengeluaran.
Pengeluaran rutin untuk rokok dapat mengurangi dana yang tersedia bagi kebutuhan lain apabila anggaran rumah tangga terbatas. Karena itu, data ini relevan sebagai bahan evaluasi mengenai prioritas belanja keluarga, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar lainnya.
Bagi rumah tangga yang ingin mengendalikan pengeluaran, pencatatan belanja harian dan penetapan anggaran dapat membantu mengidentifikasi pengeluaran yang bisa dikurangi. Mengurangi konsumsi rokok juga berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan sekaligus keuangan keluarga.
Laporan BPS tersebut memberikan gambaran mengenai pola pengeluaran penduduk Indonesia pada Maret 2026. Angka-angka itu menjadi pengingat bahwa keputusan konsumsi sehari-hari turut menentukan bagaimana pendapatan rumah tangga dialokasikan untuk berbagai kebutuhan.
