Purwakarta, GPriority.co.id – Program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai direalisasikan. Sebanyak 500.000 keping genteng produksi perajin lokal dari Plered, Purwakarta, Jawa Barat, dikirim ke berbagai wilayah pada Jumat (2/10) untuk mendukung perbaikan rumah dan mendorong penggunaan genteng sebagai material atap.
Presiden Prabowo menegaskan keinginannya agar rumah-rumah di Indonesia menggunakan genteng, bukan didominasi atap seng.
“Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng,” tegas Prabowo.
Dikutip dari detikProperti, pengiriman tahap awal melibatkan 125 truk yang membawa genteng dari sentra produksi Plered. Program ini tidak hanya menyasar perbaikan kualitas hunian, tetapi juga diharapkan menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin genteng, serta pekerja transportasi.
Kelebihan Genteng Dibandingkan Atap Seng
Genteng tanah liat memiliki sejumlah keunggulan untuk hunian di wilayah beriklim tropis. Material ini mampu membantu mengurangi perpindahan panas ke dalam rumah sehingga ruangan berpotensi terasa lebih sejuk dibandingkan menggunakan lembaran seng tanpa lapisan insulasi.
Selain itu, genteng relatif tahan terhadap korosi dan tidak menimbulkan suara sekeras atap seng ketika hujan. Bobotnya juga membantu menjaga posisi atap agar tidak mudah terangkat angin, selama konstruksi dan pemasangannya dilakukan dengan benar.
Namun, genteng memiliki kekurangan, antara lain bobot lebih berat, membutuhkan rangka atap yang kuat, serta pemasangan yang lebih rumit. Genteng juga dapat retak atau pecah akibat benturan. Sementara itu, seng cenderung lebih ringan dan praktis dipasang, tetapi dapat berkarat apabila lapisan pelindungnya rusak.
Berapa Lama Genteng Bisa Bertahan?
Menurut laporan detikProperti, genteng tanah liat dapat memiliki masa pakai sekitar 40–50 tahun, bergantung pada kualitas bahan dan pemasangan. Sementara itu, seng biasa dapat mengalami korosi lebih cepat, meskipun ketahanannya berbeda menurut jenis logam, lapisan pelindung, dan kondisi lingkungan.
Setelah pengiriman dari Purwakarta, program ini dijadwalkan berlanjut di Majalengka dengan rencana distribusi 2,4 juta keping genteng pada 8 November 2026.
Melalui Gentengisasi, pemerintah berupaya menggabungkan peningkatan kualitas hunian dengan penguatan industri lokal. Keberhasilan program tetap bergantung pada kualitas produk, kemampuan produksi perajin, serta kesesuaian material dengan kondisi rumah dan kemampuan masyarakat.
