Menopause Bikin Nyeri Sendi? Kenali Sindrom Muskuloskeletal

usculoskeletal syndrome of menopause atau sindrom muskuloskeletal menopause, yaitu kumpulan masalah pada otot, sendi, dan tulang yang berhubungan dengan perubahan hormon selama transisi menopause/Foto : Ilustrasi Dok. Istimewa usculoskeletal syndrome of menopause atau sindrom muskuloskeletal menopause, yaitu kumpulan masalah pada otot, sendi, dan tulang yang berhubungan dengan perubahan hormon selama transisi menopause/Foto : Ilustrasi Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Nyeri otot dan sendi yang terus muncul saat memasuki usia paruh baya tidak selalu sekadar tanda penuaan.

Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan musculoskeletal syndrome of menopause atau sindrom muskuloskeletal menopause, yaitu kumpulan masalah pada otot, sendi, dan tulang yang berhubungan dengan perubahan hormon selama transisi menopause.

Menurut ulasan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Climacteric pada 2024, lebih dari 70 persen perempuan mengalami gejala muskuloskeletal selama transisi perimenopause hingga pascamenopause. Sekitar 25 persen di antaranya mengalami gejala yang dapat menyebabkan keterbatasan aktivitas.

Sindrom ini berkaitan dengan perubahan kadar estrogen yang diproduksi ovarium. Hormon tersebut berperan dalam menjaga kesehatan tulang, otot, dan jaringan sendi. Ketika kadarnya menurun selama menopause, sebagian perempuan dapat mengalami nyeri sendi, kekakuan, penurunan massa otot, hingga peningkatan risiko masalah tulang.

Mengapa Nyeri Muncul Saat Menopause?

Perubahan hormon dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh. Keluhan yang muncul tidak hanya berupa nyeri pada lutut, pinggul, bahu, atau tangan, tetapi juga dapat disertai kekakuan dan berkurangnya kekuatan otot.

NHS, layanan kesehatan nasional Inggris, turut mencantumkan nyeri otot dan sendi sebagai salah satu gejala yang dapat dialami selama perimenopause maupun menopause. Namun, hubungan antara penurunan estrogen dan nyeri muskuloskeletal masih terus diteliti, sehingga tidak semua keluhan nyeri pada usia paruh baya dapat langsung dikaitkan dengan menopause.

Masalah ini kerap terlewat karena gejalanya menyerupai gangguan lain, seperti osteoartritis, cedera, atau kondisi peradangan. Padahal, nyeri yang berlangsung lama dapat mengganggu tidur, mobilitas, dan aktivitas sehari-hari.

Cara Mengatasi Nyeri Muskuloskeletal

Ada beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan otot dan sendi selama menopause. Latihan kekuatan secara bertahap, aktivitas fisik berdampak rendah, pola makan bergizi, serta tidur yang cukup dapat mendukung kesehatan tulang dan otot.

Fisioterapi juga dapat dipertimbangkan untuk membantu meningkatkan kekuatan dan mobilitas, terutama jika nyeri membatasi gerakan. Penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab keluhan dan kondisi masing-masing individu.

Meski begitu, jangan langsung menganggap semua nyeri sebagai bagian normal dari menopause. Jika keluhan menetap selama beberapa minggu, semakin berat, mengganggu tidur atau aktivitas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Nyeri yang disertai pembengkakan dan rasa panas pada sendi, demam, atau kesulitan berjalan memerlukan penilaian medis segera.

Mengenali sindrom muskuloskeletal menopause sejak dini dapat membantu perempuan mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat, sekaligus menjaga kualitas hidup selama memasuki fase perubahan hormonal ini.