Riyadh, GPriority.co.id – Kelompok Houthi di Yaman kembali mengeluarkan peringatan kepada maskapai penerbangan, pekerja bandara, dan pelancong agar menghindari bandara serta wilayah udara Arab Saudi.
Ancaman ini muncul di tengah eskalasi konflik regional setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya pada Sabtu (10/10).
Dalam pernyataan yang dikutip Reuters, Houthi menegaskan bahwa ancaman terhadap penerbangan sipil di Arab Saudi belum berakhir. Kelompok tersebut juga menyebut bandara dan wilayah udara Saudi sebagai sasaran potensial serangan mereka.
“Kami memperbarui peringatan kepada seluruh maskapai penerbangan, para ahli, pegawai, pekerja, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara serta wilayah udara Arab Saudi, karena wilayah tersebut rentan diserang dan telah menjadi medan operasi pasukan kami,” demikian pernyataan Houthi yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, turut menegaskan bahwa Arab Saudi bertanggung jawab atas kegagalan sistem pencegatannya. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai keselamatan penerbangan komersial di kawasan Teluk.
Selain mengklaim serangan terhadap Bandara Riyadh, Houthi menyatakan telah menargetkan Bandara Internasional King Fahd di Dammam serta dua fasilitas milik perusahaan minyak Saudi Aramco. Namun, klaim mengenai sasaran tersebut belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Menurut laporan Associated Press (AP), serangan lanjutan kembali menghantam terminal penumpang Bandara Riyadh pada Minggu (11/10). Otoritas Saudi melaporkan adanya korban luka, sementara pemeriksaan kerusakan dan pengamanan fasilitas masih berlangsung.
Serangan ini menambah tekanan terhadap sektor penerbangan dan energi Arab Saudi. Sejumlah maskapai telah menghentikan penerbangan ke beberapa tujuan di negara tersebut, sedangkan sejumlah otoritas memperingatkan warganya mengenai risiko perjalanan.
Saudi Siapkan Respons, Konflik Berpotensi Meluas
Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, sebelumnya menyebut serangan terhadap bandara sebagai “kejahatan perang sepenuhnya” karena menyebabkan korban di kalangan penumpang sipil dan pekerja bandara.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan keterlibatan negaranya dalam operasi militer terhadap Houthi. Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik Yaman dapat meluas dan mengganggu jalur perdagangan internasional, termasuk pelayaran di Laut Merah.
Analis senior International Crisis Group untuk Yaman, Ahmed Nagi, menilai strategi serangan terhadap infrastruktur penting Saudi justru dapat berbalik merugikan Houthi.
“Alih-alih mendorong Riyadh untuk mundur, serangan terhadap infrastruktur penting Saudi justru dapat membuat Saudi semakin bertekad melanjutkan kampanye militernya,” kata Nagi, sebagaimana dikutip AP.
Eskalasi ini menunjukkan bahwa ancaman Houthi terhadap bandara Saudi tidak hanya berdampak pada keselamatan penumpang, tetapi juga berpotensi memperburuk ketegangan geopolitik dan mengganggu stabilitas energi serta perdagangan global.
