Palangkaraya, GPriority.co.id – Kualitas udara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data AQI.in per 19 Oktober 2026 yang dihimpun GoodStats, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) kota tersebut mencapai rata-rata 240, dengan angka tertinggi menyentuh 342 atau masuk kategori berbahaya. Paparan polusi dalam kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Angka tersebut juga memunculkan perhatian terhadap estimasi paparan polusi yang disebut setara dengan menghirup asap dari 11 batang rokok per hari. Perbandingan ini bukan hasil survei kebiasaan merokok, melainkan estimasi berdasarkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di udara.
Mengutip AQI.in, perhitungan rokok ekuivalen menggunakan rata-rata konsentrasi PM2.5 selama 24 jam dengan asumsi seseorang terus-menerus terpapar polusi. Metode tersebut merujuk pada pendekatan Berkeley Earth. Karena itu, angka rokok ekuivalen merupakan ilustrasi risiko paparan, bukan berarti dampak kesehatan polusi udara sepenuhnya sama dengan merokok.
Data yang dihimpun GoodStats menempatkan Palangkaraya sebagai kota dengan kualitas udara sangat buruk pada 19 Oktober 2026. Langit kota yang tampak menguning sejak Rabu (14/10) menjadi salah satu gambaran dampak kabut asap karhutla.
Selain Palangkaraya, Sampit mencatat indeks AQI 233 dan sempat mencapai 311. Palembang berada di angka 222 akibat kiriman asap dari wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Sementara itu, Jambi mencatat 190, Pekanbaru 172, Martapura 159, Batam 152, Pontianak 121, Jakarta 110, dan Bandung 105.
Buruknya kualitas udara di Batam dipengaruhi asap dari kebakaran gambut di Riau dan Jambi. Adapun pencemaran di Jakarta dan Bandung lebih berkaitan dengan sumber polusi perkotaan yang berlangsung berkepanjangan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam paru-paru, bahkan memasuki aliran darah. Paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, penyakit jantung, stroke, hingga kanker paru-paru.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar, serta memantau informasi kualitas udara terbaru.
Kondisi ini menegaskan pentingnya penanganan karhutla secara serius. Selain merusak lingkungan, kebakaran hutan dan lahan juga berdampak langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
