Kepala BNPB Soal Pilih-Pilih Bantuan Asing untuk Tangani Karhutla: SDM Kita Banyak

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cukup untuk mendukung penanganan karhutla/Foto : Dok. BNPB Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cukup untuk mendukung penanganan karhutla/Foto : Dok. BNPB

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyeleksi tawaran bantuan asing untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pemerintah memprioritaskan peralatan dan teknologi yang belum tersedia di Indonesia agar upaya pemadaman berjalan lebih efektif.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cukup untuk mendukung penanganan karhutla. Karena itu, bantuan dari luar negeri akan dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya di lapangan.

“Teknologi dong, alat dan teknologi ya. Kalau manusia, SDM kita banyak kok,” ujar Kristomei di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10) malam.

Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan ANTARA dan detikNews yang menyebut BNPB masih menginventarisasi kebutuhan sebelum menentukan bantuan yang akan digunakan.

Sejumlah negara, termasuk Malaysia, Singapura, dan Jepang, telah menawarkan bantuan untuk menangani karhutla. Kristomei menyebut Singapura telah mengirimkan surat penawaran yang mencakup pesawat Hercules C-130, air minum, dan masker.

Namun, BNPB akan mengevaluasi setiap tawaran berdasarkan ketersediaan fasilitas serupa di dalam negeri. Menurut Kristomei, Indonesia telah memiliki pesawat Hercules sehingga pemanfaatan pesawat dari negara lain perlu dikaji dari sisi efektivitas.

Ia juga menilai bantuan berupa air minum dan masker belum tentu menjadi prioritas apabila persediaan dalam negeri masih mencukupi. Pemerintah ingin memastikan bantuan yang diterima benar-benar menambah kemampuan penanganan kebakaran.

“Sudah ada beberapa negara yang menawarkan kepada kita, saat ini memang kita butuh waktu untuk menginventarisasi bantuan apa saja. Sehingga nanti kalau memang kita tidak bisa dan alatnya tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka,” ujar Kristomei.

Selain jenis bantuan, BNPB mempertimbangkan aspek teknis penggunaan peralatan, termasuk kapasitas angkut pesawat untuk membawa dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca.

Kristomei menyebut kapasitas angkut dry ice pada pesawat Hercules sekitar 1,1 ton, sedangkan pesawat Cassa sekitar 800 kilogram. Pertimbangan tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk menentukan peralatan yang paling sesuai dengan kebutuhan operasi.

Meski selektif, BNPB menegaskan Indonesia tetap terbuka terhadap bantuan internasional. Kristomei mengatakan bantuan akan diterima apabila memang dibutuhkan dan peralatannya belum tersedia di dalam negeri.

Langkah inventarisasi ini diharapkan membuat dukungan internasional lebih tepat guna dan tepat sasaran. Di tengah penanganan karhutla, pemerintah berupaya mempercepat pemadaman agar masyarakat tidak terus terpapar dampak kebakaran dan asap.