Jakarta, GPriority.co.id – Pemerintah pusat menggelar rapat koordinasi untuk memastikan penanganan darurat gempa bumi berkekuatan M7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) berjalan optimal. Sejumlah kementerian dan lembaga secara paralel telah mengerahkan personel, peralatan, dan logistik menuju lokasi bencana.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno memimpin rapat koordinasi pada Sabtu siang (15/8) secara daring. Pertemuan ini menghadirkan perwakilan kementerian dan lembaga, termasuk TNI dan Polri, yang menyiapkan sumber daya untuk dikirim ke NTT. Koordinasi juga diikuti Gubernur NTT yang sejak pagi berada di Sikka, salah satu wilayah terdampak gempa.
Dalam rapat tersebut, pemerintah pusat menekankan prioritas pada evakuasi dan penyelamatan korban yang masih tertimbun reruntuhan serta penanganan korban luka. Pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak juga menjadi fokus utama. Menko PMK Pratikno menginstruksikan agar aksi cepat dilakukan agar masyarakat dapat segera pulih.
Pratikno meminta Gubernur NTT segera mengidentifikasi kebutuhan tanggap darurat, termasuk kebutuhan rumah sakit sementara, agar respons dapat direncanakan dengan baik. Identifikasi ini akan memudahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam mengelola dukungan pemerintah pusat ke daerah terdampak.
Pratikno menyampaikan bahwa bencana gempa bumi telah menjadi perhatian Presiden Prabowo. Presiden memastikan bantuan pemerintah pusat akan dikoordinasikan melalui BNPB.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M. meminta kepala daerah menetapkan status tanggap darurat bencana dan segera mengaktifkan pos komando (posko) di kabupaten terdampak. Pengaktifan posko ini bertujuan agar penanganan berjalan terkoordinasi, terpadu, dan efektif, terutama dalam pendataan dampak, pencarian dan pertolongan, serta penanganan pengungsi jika diperlukan.
BNPB telah menggerakkan bantuan darurat tahap pertama yang dimobilisasi dari gudang logistik di Flores Timur. Sejumlah kementerian dan lembaga lain juga mulai mengirimkan sumber dayanya ke lokasi bencana.
Basarnas mengerahkan special group SAR dari beberapa wilayah, seperti Bali dan Nusa Tenggara Barat, untuk membantu evakuasi dan penyelamatan korban tertimpa reruntuhan. Kementerian Pekerjaan Umum berkoordinasi dengan sumber daya daerah untuk membersihkan material longsor di akses jalan dan sungai akibat gempa.
Kementerian Sosial telah menggerakkan bantuan dari gudang logistik Kupang, NTT, menuju wilayah terdampak seperti Ngagekeo dan Sikka. Selain bantuan logistik, personel Tagana juga dikirim ke lokasi bencana. Kemensos siap mengaktifkan dapur umum dan memberikan pelayanan psikososial bagi korban.
Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan akan mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di tingkat pusat dan daerah. Menteri Kesehatan akan memimpin rapat awal HEOC pada malam hari (15/8) yang melibatkan pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Tim dari Pusat Krisis Kementerian Kesehatan juga akan segera diberangkatkan bersama tim BNPB.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan melaporkan lima dari 15 bandara di NTT terdampak gempa. Meski demikian, landasan pacu (runway) masih dapat digunakan. Kerusakan terjadi pada terminal bandara. Untuk pelabuhan, dua fasilitas mengalami rusak berat, sementara pelabuhan lain masih beroperasi. Dua fasilitas pelabuhan penyeberangan juga terdampak. Dalam mendukung penanganan darurat, Kemenhub menyiagakan helikopter dan pesawat untuk digunakan di bawah koordinasi BNPB.
Dari unsur TNI dan Polri, personel dan alutsista digerakkan menuju wilayah terdampak, termasuk pengerahan pesawat dan kapal laut militer.
Kepala BNPB menyatakan rapat kali ini merupakan tahap awal. Pihaknya akan menggelar rapat koordinasi lanjutan yang melibatkan kementerian/lembaga, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, serta seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan darurat.
Foto : BNPB
