25 Ribu Hektare Lahan Papua Selatan Terbakar Akibat Karhutla, Habitat Cenderawasih Terancam

Karhutla di Papua Selatan mencapai 25.838,53 hektare berdasarkan data Kemenhut/Foto : Dok. Istimewa Karhutla di Papua Selatan mencapai 25.838,53 hektare berdasarkan data Kemenhut/Foto : Dok. Istimewa

Papua, GPriority.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua sepanjang 2026 diperkirakan mencapai puluhan ribu hektare.

Papua Selatan menjadi wilayah paling terdampak, dengan luas kebakaran mencapai 25.838,53 hektare berdasarkan data Kementerian Kehutanan yang dikutip BBC News Indonesia.

Bencana ini tidak hanya mengancam kehidupan masyarakat, tetapi juga memperbesar risiko kerusakan habitat satwa endemik, termasuk burung cenderawasih.

Laporan BBC News Indonesia pada 14 Oktober 2026 menyebutkan, kebakaran telah berlangsung sejak sekitar Agustus. Papua Selatan menjadi episentrum karhutla di tengah pembukaan lahan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk pengembangan kawasan pangan dan energi. Namun, kaitan antara kebakaran dan aktivitas pembukaan lahan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut melalui investigasi serta penegakan hukum.

Dampak kebakaran dirasakan langsung masyarakat Merauke. Asap tebal mengganggu kesehatan warga, sementara kebun yang terbakar dan kekeringan membuat akses terhadap air bersih semakin sulit.

“Asap masih tebal, mulai banyak yang batuk di sini karena polusi. Sudah susah juga mendapatkan air. Tahun-tahun lalu itu pernah juga tapi tidak terlalu. Ini sampai masyarakat setengah mati,” ujar Yonas, warga Distrik Ilwayab, Merauke, kepada BBC News Indonesia beberapa waktu lalu.

Yonas juga mengeluhkan minimnya upaya pemadaman yang dirasakan warga.

“Pemadaman tidak ada. Untuk asap, kami juga cuma bertanya kapan ini berhenti dan cuma berharap pada alam,” katanya.

Kabut asap dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah lain, termasuk Papua Barat, Maluku, dan Sulawesi. Kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan. Di sisi lain, laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Suharyanto, kepada Presiden Prabowo Subianto pada 12 Oktober 2026 menyebutkan masih ada 639,23 hektare lahan yang ditangani di enam provinsi prioritas. Papua tidak termasuk dalam daftar tersebut, sehingga angka itu tidak menggambarkan keseluruhan kondisi karhutla di Indonesia.

Ancaman ekologis juga terlihat di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Lebih dari 190 hektare dari sekitar 300 hektare Hutan Warkesi dilaporkan hangus. Kebakaran membuat habitat cenderawasih merah dan cenderawasih botak semakin terdesak ke bagian hutan yang lebih dalam.

Kelompok Tani Hutan Warkesi bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Fauna & Flora International (FFI) membangun sekat bakar untuk melindungi zona inti habitat satwa.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan, yang disebut BBC telah dihubungi terkait keterlibatannya dalam pelaksanaan PSN di Papua Selatan, belum memberikan tanggapan hingga berita tersebut diterbitkan. Penanganan karhutla kini menjadi tantangan mendesak untuk melindungi kesehatan warga, hutan Papua, dan kelangsungan hidup satwa endemik.