Jakarta, GPriority.co.id – Laporan terbaru dari CNBC menyebut harga RAM kemungkinan akan naik lebih dari 50 persen di tahun ini. Sementara itu, laporan Vice juga menyebut harga GPU akan ikut naik.
Harga GPU AMD dikabarkan akan mengalami peningkatandi bulan Januari 2026, sementara Nvidia menyusul di bulan Februari 2026. Lalu, apa penyebab kenaikan tersebut?
Disinyalir, teknologi AI (Artificial Intelligence) lah yang menjadi biangnya. GPU dan RAM sendiri merupakan komponen penting untuk training the latest AI model, per Windows Central. Sayangnya, produsen RAM dan GPU yang ada tidak bisa mengikuti jumlah permintaan. Sehingga, saat permintaan naik dan suplai sedikit, harganya pun mengalami peningkatan.
Semakin lama, kebutuhan RAM dan GPU pusat data AI juga akan semakin besar. Pada 25 Februari 2025 lalu, CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut jika AI generasi berikutnya akan membutuhkan daya komputasi 100 kali lebih banyak jika dibandingkan model lamanya.
AI yang menggunakan proses penalaran seperti DeepSeek R1, OpenAI GPT-4, dan xAI Grok 3, membutuhkan komputasi yang cepat karena prosesnya demanding.
Oleh sebab itu, hyperscaler cloud service seperti Microsoft, Google, Meta, sampe Amazon, menuntut 3 raksasa produsen RAM seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology, untuk fokus produksi RAM dan GPU hanya kepada mereka, menurut laporan International Data Corporation.
Samsung dan SK Hynix yang memegang 70 persen pasar RAM global pun juga memastikan untuk membuat phasing out produksi RAM DDR4 di akhir 2025. Mereka saat ini lebih fokus memproduksi RAM DDR5 dan high bandwidth memory (HBM) yang lebih banyak dipake AI data center.
Dengan strategi tersebut, para gamer, kreator, perakit PC, serta konsumen umum yang berencana mengganti hp, laptop, hingga komputer baru di tahun ini pun terkena dampaknya.
Karena fokus produksi beralih ke data center, suplai GPU dan RAM konsumen pun terhambat. Imbasnya, biaya produksi laptop dan hp konsumen ikut naik. Laporan BBC menyebut, laptop RAM 16GB kemungkinan akan naik USD40-50 atau sekitar Rp670-840 ribu. Sementara Hp juga diprediksi mengalami kenaikan hingga USD30 atau sekitar Rp500 ribu dari harga normal.
Produsen laptop seperti ASUS pun telah memberi tahu retailer dan konsumen mereka terkait kenaikan harga barang dari 5 Januari lalu. Di sisi lain, laporan TrendForce menunjukkan jika produsen laptop dan smartphone mulai mengurangi spek RAM di rilisan mereka.
Misalnya saja seperti spek smartphone mid-range, produsen akan lebih fokus ke RAM 8GB. Sementara spek 12GB akan lebih jarang. Begitupun dengan smartphone low-range, speknya akan lebih difokuskan pada RAM 4GB. Sementara untuk laptop mid-range akan mulai geser ke RAM 8GB. Namun untuk laptop low-range tidak akan mengalami perubahan dalam waktu dekat.
Kabar buruknya, Vice President of Marketing Mobile and Client Business Unit dari Micron Technology, Christopher Moore, mengatakan jika situasi ini kemungkinan akan berlangsung sampai 2028 mendatang, sebagaimana dilansir dari laporan Wccftech.
