Jakarta, GPriority.co.id – Siapa sangka, empat mesin besar yang sempat terbengkalai berbulan-bulan justru menjadi titik awal lahirnya sebuah merek oleh-oleh baru di Yogyakarta.
Adalah Manajer Hukum Bakpia Pangeran Devilito Megananda yang mengisahkan langsung bagaimana proses penuh kebingungan, trial and error, hingga 31 kali perubahan resep akhirnya melahirkan produk yang kini mulai dikenal di sejumlah titik strategis Kota Pelajar.
“Awalnya kami bahkan tidak tahu mesin itu mau dipakai untuk apa,” ujarnya saat ditemui GPriority.co.id di The Rich Hotel Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Pada November-Desember 2024, Pemilik Perusahaan Anton Juwono membeli empat mesin dari Tiongkok. Ada oven, mixer adonan, mixer masak, dan alat kukus. Namun hingga awal 2025, mesin-mesin tersebut belum juga digunakan.
Masalahnya, pada saat itu core business pimpinan berada di sektor skincare dan properti, sementara mitra utamanya berlatar belakang bisnis genset. Tidak ada yang benar-benar memahami teknis produksi makanan.
“Begitu dititahkan harus jadi bakpia, ya kami sebagai prajurit mengeksekusi,” tuturnya.
Pada awalnya, Bakpia diproduksi di kawasan belakang Sleman City Hall, memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak terpakai.
Begitu memulai, tantangan pertama langsung muncul, seperti daya listrik tidak kuat, instalasi gas belum tersedia, dan tak seorang pun paham mengoperasikan mesin modern tersebut.
“Begitu dicolok, listriknya ‘jepret’. Kami harus naikkan daya dulu. Seharian belajar lewat customer service mesin hanya untuk tahu instalasinya,” kenangnya.
Belajar dari Nol
Setelah mesin bisa menyala, masalah baru muncul. rasa dan tekstur produk jauh dari harapan. Bakpia yang dibawa ke kantor pusat untuk presentasi bahkan berubah keras seperti batu dalam waktu kurang dari satu jam.
“Cokelatnya tidak terasa cokelat, keju ternyata bukan keju, hanya margarin diberi warna. Itu momen yang memalukan sekaligus menyadarkan kami bahwa ini tidak bisa setengah-setengah,” ujarnya.
Ia kemudian turun langsung melakukan riset. Lowongan dibuka, wawancara dilakukan hampir setiap hari, menggali detail proses produksi mulai dari jenis tepung, elastisitas adonan, hingga teknik memanggang.
“Dua minggu pertama hanya untuk memahami komposisi dasar. Total sampai hari ini resep sudah berubah 31 kali,” katanya.
Baginya, tidak ada produk yang sempurna. Namun kualitas harus diperjuangkan.
Dari Tradisional Bertemu Modern
Meski memiliki mesin modern, Bakpia Pangeran tidak sepenuhnya mengandalkan otomatisasi. Konsep yang diusung adalah hybrid memadukan teknologi dengan sentuhan tradisional.
“Kami tetap ingin memberdayakan anak-anak muda. Mayoritas tim produksi kami usia di bawah 30 tahun,” jelasnya.
Varian yang diluncurkan pada April antara lain kacang hijau, kumbu hitam, cokelat, keju, taro, hingga kunafa. Salah satu yang menjadi diferensiasi adalah Kunafa Pistachio, yang menyasar segmen anak muda dan pasar premium.
Menurutnya, diferensiasi penting di tengah persaingan ketat industri bakpia di Yogyakarta yang memiliki puluhan merek ternama.
“Kami tidak ingin sekadar ikut-ikutan. Kalau produknya terlalu aneh, pasar harus diedukasi. Tapi kalau variannya relevan dan punya positioning jelas, itu lebih mudah diterima,” ujarnya.
Strategi Brand dan Segmentasi
Bakpia Pangeran memposisikan diri sebagai pelengkap lini bisnis utama perusahaan yang bergerak di sektor hotel dan properti. Produk ini dipasarkan di sejumlah titik seperti Malioboro dan kawasan Beringharjo, serta jaringan internal milik perusahaan
Segmen pun dibagi dua, premium dan klasik. Varian premium menyasar konsumsi pribadi atau keluarga inti, sementara varian klasik dengan harga lebih terjangkau ditujukan untuk oleh-oleh massal.
Ia menekankan bahwa industri oleh-oleh sangat bergantung pada strategi branding dan momentum, bukan sekadar rasa.
“Kalau hanya jualan, semua orang bisa. Tapi kenapa orang harus beli produk kita? Itu soal positioning,” tegasnya.
Filosofi Nama
Nama Bakpia Pangeran sempat melalui diskusi panjang. Awalnya muncul usulan “Sultan”, namun dinilai kurang tepat secara kultural.
“Akhirnya dipilih Pangeran. Lebih membumi, tapi tetap punya nilai filosofis,” katanya.
Ia bahkan menyusun narasi legenda dan nilai korporasi untuk memperkuat storytelling merek, agar tidak sekadar menjadi produk tanpa makna.
Optimisme di Tengah Persaingan
Di tengah fluktuasi harga bahan baku dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, ia mengaku tetap optimistis.
Prinsipnya sederhana. kata dia, transparan terhadap kualitas bahan, tidak overclaim, dan konsisten menjaga komunitas pelanggan.
“Kami tidak ngoyo harus jadi nomor satu. Yang penting komunitas dan loyalis kami tumbuh sehat,” tuturnya.
Baginya, Bakpia Pangeran adalah proses pembelajaran lintas disiplin dari hukum, manajemen, hingga produksi pangan.
“Dari tidak tahu apa-apa soal oven modern, sampai hari ini bisa produksi stabil. Itu perjalanan panjang,” katanya.
Dan dari empat mesin yang sempat terbengkalai, lahirlah sebuah merek oleh-oleh yang kini perlahan menapaki panggung persaingan bakpia Yogyakarta.
