Jayawijaya, GPriority.co.id – Sebuah video call antara Wili Mbuik dan sang ayah yang sebelumnya dibagikan di media sosial kini berubah menjadi kenangan terakhir yang mengharukan.
Wili, pegawai Pemerintah Kabupaten Jayawijaya asal Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu dari tiga ASN yang tewas ditembak kelompok bersenjata saat menjalankan tugas di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Rabu (9/9).
Video call tersebut dilakukan pada 24 Juli 2026, ketika Wili baru diterima sebagai CPNS. Dalam percakapan itu, sang ayah menyampaikan pesan agar anaknya tetap rendah hati selama mengabdi di tanah orang. Pesan tersebut kemudian dibagikan Wili dan kini terasa begitu pilu setelah dirinya meninggal dunia.
Bagi keluarga, Wili bukan sekadar seorang ASN. Ia merupakan anak muda asal Rote Ndao yang pergi ke Papua untuk bekerja dan mengabdi. Bibinya, Selvi Mbuik, membenarkan kabar bahwa Wili menjadi korban penembakan.
“Iya, anak kami menjadi korban,” kata Selvi saat dikonfirmasi pada Kamis (10/9), dikutip dari Tribun.
Wili sempat membuat keluarganya berharap masih bisa diselamatkan. Setelah terkena tembakan, ia dievakuasi ke RSUD Wamena untuk mendapatkan perawatan. Namun, luka tembak yang dialaminya membuat nyawanya tidak tertolong.
Kronologi Penembakan Tiga ASN Jayawijaya
Peristiwa bermula ketika delapan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya menjalankan tugas menyalurkan bantuan pangan dan bibit ternak kepada masyarakat. Setelah kegiatan selesai, rombongan kemudian bergerak kembali.
Di wilayah Kampung Muliama, rombongan diserang dan ditembaki. Tiga orang menjadi korban, yakni Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Mehan (35), dan Wili Mbuik. Aprida dan Alfonsius meninggal dunia akibat luka tembak, sedangkan Wili sempat dilarikan ke RSUD Wamena sebelum akhirnya meninggal. Lima anggota rombongan lainnya berhasil selamat.
Setelah kejadian, aparat melakukan evakuasi dan penyelidikan untuk mengungkap pelaku. Polisi menyebut keterlibatan kelompok bersenjata masih dalam penyelidikan, sehingga identitas pelaku perlu menunggu hasil pemeriksaan aparat.
Duka keluarga semakin terasa ketika jenazah Wili dipulangkan. Dari Wamena, jenazahnya diterbangkan melalui Jayapura dan Makassar menuju Kupang. Setelah tiba, jenazah Wili disemayamkan sementara di rumah pamannya di Oesapa sebelum rencananya dibawa ke Rote Ndao.
Kini, pesan sederhana sang ayah agar Wili “tetap rendah hati di tanah orang” menjadi kenangan yang paling membekas. Ia berangkat untuk mengabdi, tetapi kepulangannya justru membawa duka bagi keluarga yang menunggunya di kampung halaman.
