TEI 2026 Jadi Momentum Indonesia Perkuat Bisnis dengan Afrika

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat/Foto : Dok. KBRI Yaounde Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat/Foto : Dok. KBRI Yaounde

Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara Afrika melalui peningkatan perdagangan, investasi energi, dan penjajakan mineral kritis. Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi perusahaan nasional untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, mengatakan kerja sama perdagangan Indonesia–Kamerun berpotensi meningkat melalui ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang berlangsung pada 14–18 Oktober. Pada TEI 2025, pelaku usaha kedua negara menghasilkan enam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) senilai sekitar US$19,5 juta atau Rp349,73 miliar.

“Untuk Trade Expo Indonesia tahun lalu, pebisnis Indonesia dan Kamerun itu menghasilkan enam perjanjian kerja sama atau MoU. Memorandum of Understanding yang bernilai sekitar USD19,5 juta,” kata Agung saat di Jakarta, Selasa (13/10).

Lebih dari 80 delegasi Kamerun dijadwalkan mengikuti TEI 2026. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaoundé juga menyiapkan forum bisnis untuk mempertemukan pengusaha dan perwakilan pemerintah kedua negara. Penjajakan kerja sama mencakup sektor pertanian, perkebunan, konstruksi, serta pengolahan singkong menjadi tepung tapioka dan pemanfaatan biogas.

“Jadi MoU-nya itu bukan hanya MoU di atas kertas. Tetapi ini MoU yang terus berjalan dan terus kami evaluasi,” ujar Agung, menegaskan pentingnya memastikan kesepakatan bisnis berlanjut menjadi proyek nyata.

Selain perdagangan, Indonesia mendorong kerja sama energi dengan sejumlah negara Afrika, termasuk Gabon. Agung menjelaskan, Pertamina telah berinvestasi di Gabon melalui akuisisi perusahaan asal Prancis, Maurel & Prom, untuk mendukung pengamanan pasokan minyak mentah ke Indonesia.

“Dan tiga negara Afrika yaitu Nigeria, Angola, dan Gabon menjadi sumber ekspor minyak mentah Indonesia yang terbesar. Sektor energi menjadi penting,” kata Agung.

Menurutnya, penguatan kemitraan energi menjadi relevan karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah. Diversifikasi sumber pasokan diharapkan mendukung ketahanan energi nasional di tengah kebutuhan energi yang terus berkembang.

Indonesia juga menjajaki kerja sama mineral kritis, khususnya mineral tanah jarang (rare earth minerals), dengan mitra di Gabon. Komoditas tersebut menjadi salah satu bidang yang berpotensi dikembangkan dalam hubungan ekonomi Indonesia dan Afrika.

Wilayah akreditasi KBRI Yaoundé meliputi Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Gabon, dan Guinea Ekuatorial. Cakupan tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperluas kemitraan perdagangan, investasi, dan energi di kawasan.

Melalui TEI 2026 dan penjajakan investasi strategis, Indonesia berupaya membangun kerja sama yang berkelanjutan, memperluas akses pasar bagi pelaku usaha nasional, serta memperkuat ketahanan energi melalui kemitraan dengan negara-negara Afrika.