Jakarta, GPriority.co.id – Aktris Hollywood Angelina Jolie mengambil keputusan besar untuk mengurangi risiko kanker payudara setelah mengetahui dirinya membawa mutasi gen BRCA1.
Pada 2013, ia menjalani mastektomi ganda preventif atau operasi pengangkatan kedua payudara. Keputusan tersebut diambil setelah riwayat kanker dalam keluarganya mendorong Jolie menjalani pemeriksaan genetik.
Dalam opini berjudul My Medical Choice yang diterbitkan The New York Times pada 14 Mei 2013, Jolie mengungkapkan bahwa dokter memperkirakan risiko kanker payudaranya mencapai 87 persen dan kanker ovarium 50 persen. Angka tersebut merupakan perkiraan risiko pribadinya saat itu, bukan angka yang berlaku bagi setiap pembawa mutasi BRCA1.
“Dokter memperkirakan risiko saya mengidap kanker payudara adalah 87 persen dan kanker ovarium 50 persen,” ungkapnya dalam tulisan tersebut.
Ibu Jolie, Marcheline Bertrand, meninggal dunia pada 2007 setelah berjuang melawan kanker. Pengalaman kehilangan sang ibu menjadi salah satu alasan Jolie ingin mengambil langkah pencegahan demi masa depan anak-anaknya.
Jolie menjalani serangkaian prosedur mastektomi preventif pada 2013, dilanjutkan dengan rekonstruksi payudara menggunakan implan. Ia mengaku tidak mudah mengambil keputusan tersebut, tetapi merasa lega setelah mengetahui risiko kanker payudaranya menurun drastis.
“Peluang saya terkena kanker payudara turun dari 87 persen menjadi kurang dari 5 persen. Saya dapat memberi tahu anak-anak saya bahwa mereka tidak perlu takut akan kehilangan saya karena kanker payudara,” tulis Jolie dalam opini yang sama.
Pada 2015, Jolie kembali menjalani operasi untuk mengangkat ovarium dan tuba falopi guna mengurangi risiko kanker ovarium. Keputusan tersebut juga berkaitan dengan mutasi BRCA1 yang dimilikinya. Dalam tulisan di The New York Times yang dikutip majalah TIME, ia mengakui bahwa keputusan medis semacam ini tidak mudah.
Jolie juga menegaskan bahwa operasi tersebut tidak mengurangi identitas maupun feminitasnya. Ia justru merasa memiliki kendali lebih besar atas keputusan terkait kesehatannya.
“Saya tetap merasa menjadi perempuan seutuhnya. Saya merasa berdaya karena telah membuat keputusan yang sama sekali tidak mengurangi sisi feminitas saya,” tegasnya.
Menurut National Cancer Institute (NCI), mastektomi preventif dapat menurunkan risiko kanker payudara setidaknya 95 persen pada perempuan dengan mutasi berbahaya BRCA1 atau BRCA2. Namun, operasi ini tidak menghilangkan risiko sepenuhnya dan memiliki potensi komplikasi.
Kisah Angelina Jolie menjadi pengingat pentingnya memahami riwayat kanker keluarga dan berkonsultasi dengan tenaga medis. Pemeriksaan genetik serta keputusan operasi pencegahan perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi dan risiko masing-masing individu.
