Jakarta, GPriority.co.id – Sexless marriage atau pernikahan tanpa aktivitas seksual menjadi salah satu kondisi yang dapat memengaruhi kepuasan dan kedekatan pasangan suami istri. Meski tidak selalu menandakan hubungan yang bermasalah, minimnya hubungan seksual patut diperhatikan apabila disertai ketidakpuasan, konflik, atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Marriage and Family pada 2013 menemukan bahwa sekitar 29 persen responden menikah berusia 57–85 tahun melaporkan tidak melakukan aktivitas seksual selama setidaknya 12 bulan. Studi terhadap 1.502 orang tersebut juga mengaitkan ketidakaktifan seksual dengan usia, lamanya hubungan, dan kondisi kesehatan fisik. Temuan ini berlaku pada kelompok usia yang diteliti, bukan seluruh pasangan menikah.
Tidak adanya hubungan seksual tidak otomatis berarti pernikahan tidak bahagia. Namun, situasi dapat menjadi persoalan ketika salah satu pasangan menginginkan keintiman seksual, sementara pasangannya tidak, sehingga muncul rasa ditolak, kesepian, atau jarak emosional.
Penelitian yang diterbitkan dalam Archives of Sexual Behavior pada 2017 menganalisis hubungan perilaku sehari-hari, frekuensi hubungan seksual, kepuasan seksual, dan kepuasan pernikahan. Hasilnya menunjukkan bahwa suasana interaksi yang hangat dan kepuasan seksual berkaitan dengan kepuasan pernikahan. Frekuensi hubungan seksual semata tidak menjadi penentu kepuasan pernikahan ketika faktor-faktor tersebut dipertimbangkan bersama.
Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pertambahan usia, masalah kesehatan, stres, kelelahan, hingga konflik yang belum terselesaikan. Karena itu, penting untuk memahami penyebabnya sebelum menyimpulkan bahwa hubungan sedang mengalami masalah serius.
“Pernikahan tanpa hubungan seksual” tidak serta-merta berarti pernikahan yang buruk. Persoalannya bukan terletak pada seberapa sering pasangan melakukan hubungan seksual, melainkan apakah kedua belah pihak merasa terhubung, terpenuhi kebutuhannya, dan memiliki pemahaman yang selaras.
Komunikasi terbuka menjadi langkah penting untuk menghadapi perubahan kehidupan seksual dalam pernikahan. Pasangan dapat membicarakan kebutuhan, kenyamanan, dan harapan masing-masing tanpa saling menyalahkan atau memberikan tekanan.
Jika penurunan gairah terjadi secara tiba-tiba, menimbulkan tekanan emosional, atau berkaitan dengan keluhan kesehatan, konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu mengidentifikasi penyebabnya. Konseling pasangan juga dapat dipertimbangkan ketika persoalan keintiman berkaitan dengan konflik berkepanjangan.
Pada akhirnya, bahaya sexless marriage bukan semata-mata terletak pada tidak adanya hubungan seksual, melainkan pada persoalan yang dibiarkan tanpa komunikasi dan penyelesaian. Menjaga kedekatan emosional, saling menghormati kebutuhan, dan mencari solusi bersama menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas pernikahan.
