Jakarta, GPriority.co.id – Dunia persepakbolaan tanah air tengah berduka atas wafatnya salah satu tokoh penting, I Gusti Komang Manila. Beliau meninggal pada 18 Agustus 2025 di usia 83 tahun.
Sosoknya dikenal luas di berbagai bidang, mulai dari olahraga, militer, hingga politik. Pria kelahiran Singaraja, Bali, 8 Juli 1942 ini adalah seorang purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.
Berpengalaman di bidang Polisi Militer, IGK Manila merupakan lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1964. Selama karirnya, ia pernah terlibat dalam sejumlah operasi militer, seperti Operasi Dwikora, Operasi Ganesha, dan penumpasan G-30S/PKI.
Tidak hanya di militer, IGK Manila juga merupakan figur penting dalam dunia olahraga Indonesia. Ia dijuluki “Bapak Wushu Indonesia” dan pernah menjabat sebagai manajer Timnas PSSI yang meraih medali emas SEA Games 1991. Prestasi gemilang ini menjadi momen bersejarah karena medali emas tersebut bertahan cukup lama, hingga akhirnya kembali diraih oleh Timnas Garuda pada SEA Games 2023.
Julukan “Bapak Wushu Indonesia” diberikan bukan tanpa sebab. Sepak bola bukan satu-satunya cabang olahraga yang ia tangani. IGK Manila juga terlibat dalam cabang olahraga wushu. Ia melahirkan Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) pada tahun 1992 dan bahkan menjadi ketua umum PBWI yang perdana.
Usahanya sangat besar, mengingat pada masa Orde Baru, wushu merupakan kegiatan yang dilarang tampil di ruang publik. Ia dan sejumlah tokoh wushu lainnya berhasil meyakinkan Presiden Soeharto untuk mendukung pengembangan dan pendanaan olahraga wushu.
Selain di dunia olahraga, IGK Manila juga terlibat aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjabat sebagai wakil ketua umum Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dan direktur Akademi Olahraga Indonesia (AKORIN). Ia dikenal dengan panggilan radio amatir nya, YB0AA.
Jabatan terakhir yang diemban oleh IGK Manila adalah Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem. Di lembaga ini, ia memfokuskan energi dan wawasannya untuk mengedukasi generasi muda agar menjadi pemimpin masa depan yang revolusioner, berintegritas, berjiwa visioner, dan tetap menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Pewarta: Rizqi Juned
Editor: Dimas A Putra
