Siswi Di Bandung Diduga Meninggal Karena MBG, Ini Respon Kepala BGN

Kepala BGN, Dadan Hindayana/Foto : Dok. Instagram @badangizinasional.ri Kepala BGN, Dadan Hindayana/Foto : Dok. Instagram @badangizinasional.ri

Jakarta, GPriority.co.id – Seorang siswi di Bandung, Jawa Barat, diduga meninggal dunia setelah menyantap MBG (Makan Bergizi Gratis), pada Senin (29/9).

Siswi SMKN 1 Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat berinisial B tersebut ditemukan dalam kondisi mulut berbusa, sebagaimana dilansir dari laporan ANTARA pada Jumat (3/10).

Agus Rudianto selaku Camat Cihampelas mengatakan jika B sempat mengalamimual sepulang sekolah. Ia pun langsung diberi obat masuk angin oleh keluarganya. Meski kondisinya sempat membaik keesokan harinya, namun ia kembali drop dan dibawa ke bidan serta dirujuk ke RSUD Cililin.

Sayangnya, nyawanya tak dapat tertolong saat dibawa dalam perjalanan. Kendati demikian, pihak keluarganya tidak meminta autopsi dan meminta jenazah B segera dimakamkan. Menyoroti hal tersebut, Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) Dadan Hindayana, mengatakan jika kematian B tidak berhubungan dengan MBG.

“Itu kan sudah dijelaskan dari sana bahwa tidak ada hubungan (dengan MBG). Kemarin sebenarnya kita bertanya, tapi orang tuanya kan tidak mengizinkan untuk otopsi. Jadi kita serahkan ke pemerintah setempat yang menyampaikan,” ujar Dadan.

Senada dengan Dadan, pihak medis menyebut jika kematian B tidak memiliki kaitan dengan MBG yang disantapnya. Edah Jubaidah selaku Kepala Puskesmas Cihampelas menduga jika B meninggal akibat keracunan, namun bukan dari MBG. Tetapi dari makanan lain, karena adanya jeda waktu yang cukup jauh.

Sebagai informasi, kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat menjadi yang terbanyak hingga saat ini. Pada bulan September lalu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyebut jika salah satu penyebab utamanya ialah manajemen penyajian makanan yang buruk.

Mulai dari proses memasak yang terlalu cepat, padahal disajikan dalam jumlah besar. Selain itu, waktu jeda sebelum MBG dikonsumsi juga panjang, hingga menyebabkan kualitas MBG menurun drastis.

Saat disinggung terkait penghentian program MBG, Dedi pun berpendapat jika evaluasi pihak penyelenggara lebih dibutuhkan. Dedi juga memastikan jika pihaknya akan menganti penyedia makanan yang tak mampu menjaga standar serta kualitas, sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.

“Kalau penyelengara tidak mampu, ya diganti dengan yang lebih mampu,” ujarnya.

Menurut informasi yang beredar sebelumnya, ratusan siswa dari 16 provinsi di Indonesia dilaporkan mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG. Hingga saat ini, ada 6.626 kasus siswa keracunan MBG.