Syarat Baru Masuk TNI: Tinggi Badan Minimal 158 Cm, Usia Maksimal 24 Tahun

Persyaratan masuk TNI diperbarui, tinggi badan minimal 158 cm, usia maksimal 24 tahun/Foto : Dok. indonesiadefense Persyaratan masuk TNI diperbarui, tinggi badan minimal 158 cm, usia maksimal 24 tahun/Foto : Dok. indonesiadefense

Jakarta, GPriority.co.id – TNI Angkatan Darat (TNI AD) mengubah persyaratan pendaftaran calon prajurit. Jika sebelumnya tinggi badan minimal 163 cm, kini diturunkan menjadi 158 cm. Begitupun dengan usia, dari maksimal 22 tahun menjadi 24 tahun, untuk Bintara dan Tamtama.

Menurut Jenderal Tandyo Budi Revita, Wakil Panglima TNI, penyesuaian tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan dari jumlah pasukan yang meningkat. Namun perekrutan dilakukan tanpa mengurangi kualitas. Menurut Tandyo, kekuatan tak dapat ditentukan hanya lewat tinggi badan.

“Kami tidak menurunkan standar kualitas. Tinggi badan seseorang tidak selalu mencerminkan kekuatan atau kemampuan tempur,” tegas Tandyo seperti dikutip dari keterangan persnya.

Selanjutnya, perubahan syarat masuk TNI tersebut juga berkaitan dengan pengembangan Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) atau satuan infanteri baru yang ditempatkan di setiap kabupaten atau kota.

BTP tersebut memiliki peran ganda. Selain mendukung ketahanan pangan, juga berkaitan dengan pembangunan masyarakat lewat keterampilan prajurit mulai dari bidang pertanian, perikanan, konstruksi, dan kesehatan, namun juga tetap menjalankan fungsi pertahanan negara.

Pada tiap kabupaten/kota, akan ada satu batalyon BTP yang berdiri pada lahan dengan luas 30 hektare, serta dilengkapi oleh prajurit multi-talenta.

“Selain kemampuan militer, prajurit BTP juga dibekali keahlian di bidang pertanian, perikanan, konstruksi, serta kesehatan,” jelas Tandyo.

Dalam keterangannya, Tandyo menurutkan jika langkah tersebut menjadi bagian dari penerapan sistem pertahanan rakyat semesta guna mengantisipasi ancaman di masa yang akan datang. Hal tersebut, sebutnya, belajar dari pengalaman konflik antara Ukraina dan Rusia.

Tandyo mengatakan, saat ini Indonesia tengah mengadopsi Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Pasukan prajurit dituntut menghadapi berbagai kemungkin ancaman, terlebih perang.

“Kita harus siap. Ancaman bisa muncul kapanpun meski sekarang belum nampak,” tegas Tandyo dengan melanjutkan, “Lebih baik siap sejak dini daripada nantinya terlambat.”