Jakarta, GPriority.co.id – Pernahkah anda melihat seseorang yang belanja secara berlebihan meski kondisi ekonominya sedang sulit? ternyata fenomena tersebut disebut doom spending.
Dilansir dari NY Post pada Rabu (8/10), fenomena doom spending lebih banyak dilakukan oleh Gen Z dan Milenial. Menurut laporan tersebut, kedua generasi ini lebih cenderung membelanjakan uangnya untuk hal yang tak penting, saat dihadapkan pada kondisi ekonomi yang sulit.
Secara lebih mendalam, fenomena ini merupakan istilah untuk menjelaskan perilaku berbelanja secara impulsif dan berlebihan, sebagai respons terhadap rasa cemas, stres, atau khawatir akan masa depan.
Kebiasaan ini berbeda dengan belanja impulsif pada umumnya. Fenomena tersebut didorong dengan emosi negatif serta pesimisme terhadap berbagai faktor. Diantaranya inflasi, kenaikan biaya hidup, serta tingginya harga perumahan.
Berdasarkan laporan Psychology Today, 43 persen Milenial dan 35 Gen Z mengaku pernah melakukan doom spending dengan tujuan menenangkan diri dari perasaan akan masa depan. Fenomena tersebut semakin buruk dengan maraknya pengaruh media sosial di kalangan Milenial dan Gen Z yang membuat mereka dengan mudahnya mengeluarkan uangnya untuk berbelanja tanpa mempertimbangkan dampak terhadap keuangan pribadi.
Lebih parahnya lagi, banyak yang mengaku menggunakan kartu kredit atau pinjaman online untuk melakukan doom spending. Kombinasi antara tekanan ekonomi dan budaya konsumsi tersebut membuat doom spending menjadi masalah serius yang harus ditangani.
Khawatirnya, fenomena ini dapat menjadi lingkaran setan yang tak akan ada habisnya. Pasalnya, mereka yang melakukan doom spending akan cenderung stres karena tak bisa menyiapkan masa depannya serta mendorong mereka menenangkan diri dengan membelanjakan uangnya.
Selain itu, dalam jangka panjang, fenomena ini juga dapat membuat Gen Z serta Milenial menghadapi masalah keuangan, terlebih jika mereka terjebak dalam konsumsi secara berlebihan.
