Jakarta, GPriority.co.id – Kejadian jatuhnya pesawat komersil beberapa hari ini membuat was-was setiap orang yang sering traveling atau bepergian dengan burung besi ini. Tercatat ada empat kecelakaan pesawat yang terjadi menjelang akhir tahun 2024 yang tinggal sehari lagi. Empat kecelakaan yang melibatkan empat maskapai penerbangan diantaranya Jeju Airlines milik Korea selatan, PAL Airlines milik Canada, Embraer 190 AZAL milik Azerbaijan dan KLM Boeing 737-800 milik Belanda.
Dari keempat kecelakaan ini, tentunya menimbulkan pertanyaan publik, “apakah transportasi udara masih aman” ?
Diketahui Penerbangan adalah salah satu mode transportasi dengan tingkat keselamatan yang sangat tinggi. Menurut data dari International Air Transport Association (IATA) kecelakaan penerbangan terjadi pada satu dari setiap 5,4 juta penerbangan. Data lain yang dikeluarkan IATA, tingkat kecelakaan penerbangan komersial adalah 0,13 per juta penerbangan pada tahun 2021. Setiap tahun selalu mengalami penurrunan angka kecelakaan pesawat.
Statistik ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam industri penerbangan. Keberhasilan ini tidak lepas dari berbagai inovasi teknologi dan prosedur keselamatan yang diterapkan oleh maskapai dan regulator penerbangan di seluruh dunia.
Hampir mirip dengan jenis transportasi lainnya, pesawat akan melalui uji coba kelayakan yang cukup ketat terlebih dahulu sebelum dikomersilkan. Bahkan, sistem keamanan pesawat selalu dicek secara rutin, termasuk sebelum dan setelah lepas landas. Pengecekan pesawat pun dilakukan dengan sangat teliti, terutama pada bagian komponen mesin. Tak cuma teknisi, pilot juga akan turun langsung untuk mengecek sistem keamanan pesawat secara eksternal untuk memastikan tidak ada risiko kecelakaan.
Pesawat dirancang dengan mesin yang sangat canggih. Bahkan, kecanggihannya tersebut membuat pesawat dapat terbang meski salah salah satu mesinnya tidak berfungsi, seperti Boeing 747 yang memiliki empat komponen mesin yang semuanya bisa berfungsi sebagai back up. Maka dari itu, jika salah satu mesin mengalami gangguan, masih ada back up (mesin) lainnya yang dapat mengoperasikan pesawat.
Sudah menjadi rahasia umum jika mendapatkan lisensi terbang itu tidak mudah. Setiap calon pilot harus melalui pelatihan yang sangat ketat dan ekstensif terlebih dahulu. Dalam pelatihan, mereka akan diajarkan tentang mekanisme pesawat hingga tata cara mengendalikannya saat mesin mengalami gangguan saat terbang.Selain itu, dalam penerbangan komersial selalu ada dua pilot yang bertanggung jawab atas penerbangan saat itu. Nah, sebelum take off, kedua pilot tersebut akan memeriksa pesawat secara eksternal sekaligus menguji sistem peringatan internal.Tugas ini harus disepakati oleh kedua pilot, karena keamanan pesawat dan keselamatan penumpang adalah hal yang paling diutamakan. Bahkan, saat berada di fase kritis seperti pendaratan darurat, pilot akan selalu mengutamakan keselamatan penumpang.
Hal lain yang perlu diketahui, turbulensi tidaklah berbahaya, karena pesawat dirancang untuk bisa menghadapi guncangan itu. Pilot pun sudah tahu hal-hal yang harus dilakukan saat pesawat mengalami turbulensi. Nah, sebelum take off, pilot sudah dapat memperkirakan keadaan cuaca dengan alat pendeteksi khusus, lalu memilih rute penerbangan lain untuk menghindari cuaca ekstrem yang bisa menjadi penyebab turbulensi.
Dari penjelasan diatas, sekarang kamu tidak perlu merasa khawatir dan takut lagi saat naik pesawat. Dibandingkan jenis transportasi yang lain, tingkat kecelakaan dari pesawat bahkan paling rendah dan menurun setiap tahunnya. Siap traveling naik pesawat ?
(*)
Foto : Istimewa
