Bahaya Debt Addiction: Kecanduan Pinjol dan Paylater Meski Terlilit Cicilan

Debt addiction merupakan kecanduan berutang secara berulang baik utang ke orang atau utang pinjol, meski telah terlilit cicilan/Foto : Dok. Istimewa Debt addiction merupakan kecanduan berutang secara berulang baik utang ke orang atau utang pinjol, meski telah terlilit cicilan/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Kebiasaan berutang berulang atau debt addiction dapat menjadi persoalan serius ketika seseorang terus mengambil pinjaman meski kesulitan membayar kewajiban sebelumnya.

Kemudahan akses pinjaman online (pinjol), layanan buy now, pay later (BNPL), dan kartu kredit membuat transaksi semakin praktis, tetapi juga meningkatkan risiko pengelolaan keuangan yang tidak sehat.

Debt addiction bukan diagnosis medis formal, melainkan istilah untuk menggambarkan pola berutang berulang yang sulit dikendalikan. Penyebabnya dapat beragam, mulai dari penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan, belanja impulsif, tekanan gaya hidup, hingga penggunaan utang untuk mengatasi stres atau memenuhi keinginan sesaat.

Dalam laporan mengenai pinjaman jangka pendek, Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) Amerika Serikat memperingatkan bahwa struktur pinjaman berbiaya tinggi dapat menjebak konsumen dalam siklus utang.

Direktur CFPB saat itu, Richard Cordray, mengatakan, “Bagi terlalu banyak konsumen, pinjaman gaji (payday loan) merupakan jebakan utang yang membuat mereka harus menjalani hidup dengan mengandalkan uang pinjaman berbunga sangat tinggi.” Pernyataan tersebut menyoroti risiko ketika pinjaman yang semula ditujukan untuk kebutuhan jangka pendek justru menjadi beban berkepanjangan.

Bahaya Utang yang Sulit Dikendalikan

Dampak debt addiction tidak terbatas pada saldo utang yang terus membesar. Bunga, denda keterlambatan, dan biaya administrasi dapat menggerus pendapatan sehingga kebutuhan pokok semakin sulit terpenuhi. Tekanan penagihan juga berpotensi mengganggu ketenangan, hubungan keluarga, dan produktivitas.

OJK turut mengingatkan bahwa kurangnya pemahaman mengenai produk dan layanan keuangan digital dapat mendorong masyarakat mengambil keputusan yang tidak sesuai kebutuhan maupun kemampuan finansial. Karena itu, kemudahan memperoleh pinjaman perlu diimbangi pemahaman tentang bunga, biaya, tenor, serta risiko gagal bayar.

Cara Keluar dari Siklus Debt Addiction

Langkah pertama adalah menghentikan penambahan utang konsumtif dan mencatat seluruh kewajiban, termasuk jumlah pokok, bunga, cicilan minimum, serta tanggal jatuh tempo. Selanjutnya, susun anggaran bulanan untuk memprioritaskan kebutuhan pokok dan pembayaran utang.

Peminjam juga dapat menghubungi kreditur untuk membicarakan opsi pembayaran yang realistis sebelum tunggakan semakin besar. Hindari mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar cicilan lama tanpa perhitungan yang jelas, karena langkah tersebut berisiko memindahkan masalah tanpa menyelesaikannya.

Jika kebiasaan berutang berkaitan dengan dorongan belanja yang sulit dikendalikan, pertimbangkan bantuan konselor keuangan atau tenaga profesional yang relevan. Memulihkan kondisi finansial membutuhkan konsistensi, evaluasi kebiasaan belanja, dan keberanian menghadapi jumlah utang secara terbuka.

Keluar dari debt addiction bukan sekadar melunasi utang, melainkan membangun kebiasaan keuangan yang membuat seseorang tidak terus bergantung pada pinjaman.