Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan buku Muda Menata, Tua Berdaya: Agenda Transformasi Kebijakan Kelanjutusiaan di Indonesia sekaligus memulai (kick-off) pengembangan desain ekonomi perak Indonesia di Kantor Bappenas RI, Jakarta, Rabu (21/10).
Inisiatif ini menjadi langkah untuk memperkuat kesejahteraan lansia sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menekankan bahwa penuaan penduduk tidak semestinya hanya dipandang sebagai tantangan sosial. Menurutnya, perubahan demografi juga membuka peluang investasi, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan industri yang memenuhi kebutuhan masyarakat lanjut usia.
Febrian menyoroti pentingnya mengubah paradigma pembangunan agar lansia tidak hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai warga yang memiliki kemampuan, pengalaman, dan kesempatan untuk terus berkontribusi.
“Ekonomi perak harus kita pahami sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi nasional dan bukan sekadar perluasan program kesehatan sosial,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutannya.
Ia mendorong penguatan sistem kelanjutusiaan yang terintegrasi, pengembangan investasi dan industri ramah lansia, serta perluasan kesempatan bagi lansia untuk bekerja, berwirausaha, menjadi mentor, dan belajar sepanjang hayat. Kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dinilai penting untuk mewujudkan kebijakan yang inklusif.
Sementara itu, Menteri Sosial melalui Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan pentingnya perlindungan sosial bagi lansia yang rentan, pengembangan layanan terpadu, serta pemberdayaan melalui ekonomi perak.
Kementerian Sosial mendorong pengembangan senior living yang aman, aksesibel, dan terjangkau, serta industri alat bantu dan teknologi asistif untuk mendukung mobilitas, keselamatan, dan kemandirian lansia. Menurutnya, manfaat pengembangan ekonomi perak harus dapat dijangkau seluruh kelompok lansia, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Di sisi lain, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Maliki, menjelaskan bahwa Indonesia telah memasuki era penuaan penduduk sejak 2021. Karena itu, kebijakan kelanjutusiaan perlu diarahkan pada peningkatan kualitas hidup, kemandirian, dan martabat lansia melalui pendekatan siklus hidup dan kolaborasi lintas sektor.
Buku Muda Menata, Tua Berdaya disusun sebagai rekomendasi kebijakan untuk memperkuat integrasi perlindungan sosial, layanan kesehatan, perawatan, dan pemberdayaan ekonomi lansia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk lanjut usia Indonesia mencapai 11,97 persen pada 2025. Angka tersebut menegaskan pentingnya persiapan menghadapi perubahan struktur penduduk melalui kebijakan yang berkelanjutan.
Melalui peluncuran buku dan kick-off pengembangan desain ekonomi perak, Bappenas berharap terbangun komitmen bersama untuk menjadikan penuaan penduduk bukan hanya tantangan, melainkan peluang menuju Indonesia yang lebih inklusif dan sejahtera.
