Canggu, GPriority.co.id – Beberapa pengemudi ojek online (ojol) di Bali menjadi sorotan setelah diduga menjual bahan bakar minyak (BBM) kepada warga negara asing (WNA) menggunakan botol air mineral berukuran sekitar 1,5 liter.
Dalam unggahan yang beredar di media sosial, harga BBM tersebut diklaim mencapai Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per botol, di tengah antrean panjang di sejumlah tempat pengisian bahan bakar.
Informasi itu dilansir dari unggahan Instagram @nowdots pada Jumat (16/10). Materi yang beredar memperlihatkan sejumlah WNA berada di dekat sepeda motor dan menerima botol berisi cairan yang disebut sebagai BBM.
Sementara itu, berdasarkan narasi yang dikaitkan dengan akun Instagram @jurnalisrakyat, peristiwa tersebut disebut terjadi di kawasan Canggu, Bali. Namun, lokasi kejadian, jenis bahan bakar yang dijual, serta nominal transaksi belum dapat dipastikan secara independen berdasarkan informasi yang tersedia.
Dugaan penjualan BBM dengan harga tersebut memicu beragam reaksi warganet. Nilai Rp150 ribu hingga Rp200 ribu untuk satu botol berukuran sekitar 1,5 liter dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan harga BBM yang dijual melalui jalur distribusi resmi.
Situasi antrean panjang yang disebut melatarbelakangi peristiwa itu juga menjadi perhatian. Ketika pasokan atau akses terhadap BBM terbatas, penjualan secara eceran dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang. Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa transaksi dalam video dilakukan karena keadaan darurat atau bahwa harga yang disebutkan benar-benar dibayarkan oleh pembeli.
Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan resmi yang dapat memastikan identitas pengemudi, jenis BBM dalam botol, harga transaksi, maupun kronologi lengkap kejadian tersebut. Belum dapat dipastikan pula apakah cairan yang terlihat dalam video benar-benar BBM dan apakah penjualannya melanggar ketentuan yang berlaku.
Karena itu, informasi mengenai dugaan penjualan BBM hingga Rp200 ribu per botol perlu diverifikasi lebih lanjut melalui keterangan pihak terkait, termasuk aparat setempat dan instansi yang berwenang di bidang distribusi energi.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak langsung menyimpulkan suatu peristiwa hanya berdasarkan potongan video atau narasi media sosial. Verifikasi lokasi, waktu, harga, dan konteks kejadian diperlukan agar informasi yang beredar tidak menyesatkan.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi informasi di tengah situasi antrean BBM. Jika dugaan tersebut terbukti, keterangan resmi diperlukan untuk menjelaskan bagaimana transaksi berlangsung dan apakah terdapat pelanggaran yang perlu ditindaklanjuti.
Polisi Telusuri Identitas Driver Ojol
Polres Badung tengah menelusuri identitas pengemudi yang diduga menjual BBM kepada WNA. Kasi Humas Polres Badung, Ipda Ni Nyoman Yuni Eltari, mengatakan polisi berkoordinasi dengan Kominfo Badung untuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi guna melacak pelat kendaraan yang digunakan.
“Kami sudah cocokkan data ke lapangan sesuai video viral itu. Saat ini kami koordinasi ke Kominfo Badung untuk cek CCTV di seputaran jalur itu untuk melacak plat kendaraan yang bersangkutan,” kata Yuni, dikutip dari detikBali, Kamis (15/10).
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum. Ia juga mengingatkan agar penyaluran BBM memprioritaskan konsumen yang membeli langsung di SPBU dan meminta masyarakat tidak menggunakan jeriken untuk membeli BBM dalam situasi tersebut.
Meski polisi telah melakukan penelusuran, identitas pengemudi dan dugaan pelanggaran dalam transaksi itu masih perlu dipastikan melalui proses penyelidikan.
