Jakarta, GPriority.co.id – Belakangan, sejumlah media asing tengah fokus menyoroti pemerintahan Indonesia. Mulai dari arah kebijakan, utang, hingga kasus yang menimpa Nadiem Makarim.
Salah satunya media asal Inggris, The Economist. Media tersebut mempublikasikan sebuah artikel yang berisi kritikan tajam terhadap pemerintah Indonesia dengan judul “Indonesia, the Biggest Muslim-Majority Country, is on a Risky Path” (Indonesia, negara muslim terbesar di dunia, sedang berada di jalur yang berisiko).
Dirangkum dari artikel tersebut, ada beberapa poin yang dikritik oleh media itu. Pertama, ialah arah kebijakan ekonomi yang membebani anggaran. The Economist menilai pemerintah Indonesia saat ini terlalu memaksakan program yang membebani anggaran. Mereka juga memberi peringatan akan risiko krisis fiskal ke depannya.
Kedua, gaya kepemimpinan Prabowo yang dinilai boros dan otoriter. The Economist menilai Prabowo terlalu boros untuk membiayai program populis dan menunjukkan kecenderungan otoriter.
Ketiga, adanya sejumlah kebijakan utama yang dinilai dapat membahayakan ekonomi dan demokrasi. Mulai dari pemaksaan kebijakan hilirisasi industri, proram MBG, hingga penguatan peran negara yang terlalu dominan dalam pasar.
Tak sampai disitu, Prabowo juga diklaim memiliki sikap yang kontradiktif. Kadang terbuka, namun di sisi lain juga memberikan pernyataan keras terhadap pihak asing.
Selain The Economist, media Bloomberg juga memberi kritik lewat artikel berjudul “Indonesian Stocks, Bonds Drop on Deficit Cap Concern” atau “Saham dan Obligasi Indonesia Turun Akibat Kekhawatiran Batas Defisit”, yang dipublikasikan pada 16 Maret lalu.
Penurunan ini diduga menjadi penyebab kecemasan investor asing terhadap prospek kesehatan keuangan negara, terlebih setelah muncul rumor pemerintah akan menaikkan batas aman defisit 3% dari PDB.
Kekhawatiran semakin parah oleh pelemahan rupiah serta lonjakan harga minyak mentah global.
Pada 13 Februari 2026 lalu, Nikkei Asia juga merilis artikel berjudul “Indonesia eyes public funds to pay China debt for high-speed railway” (“Indonesia mengincar dana publik untuk membayar utang China terkait proyek kereta api cepat”).
Selain menyoroti proyek Kereta Whoosh yang menjadi beban finansial Indonesia, Nikkei Asia juga menyebut proyek Whoosh sebagai bom waktu bagi neraca keuangan konsorsium BUMN yang terlibat, yaitu PT KAI.
Sementara The New York Times (NYT) melalui artikel “A Tech Tycoon’s Prosecution Raises Fears of Authoritarian Overreach” menyoroti kasus Nadiem Makarim yang menghadapi tuntutan hukum 18 tahun penjara.
NYT menyebut nasib Nadiem menjadi peringatan bagi para profesional, ahli teknologi, hingga investor asing. Jika seorang tokoh seperti Nadiem bisa dijatuhkan saat menjabat, maka hal serupa juga mengancam profesional swasta lainnya untuk masuk ke sektor pemerintahan Indonesia.
