Studi Ungkap Risiko Penurunan Kesuburan Pria Akibat Polusi Udara

Ilustrasi kesuburan pria. Foto: istimewa Ilustrasi kesuburan pria. Foto: istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Paparan polusi udara dalam jangka panjang tidak hanya berdampak pada kesehatan paru-paru dan jantung, tetapi juga berpotensi menurunkan kesuburan pria.

Sejumlah studi ilmiah menunjukkan bahwa paparan berbagai polutan udara dapat memengaruhi kualitas sperma dan kesehatan reproduksi laki-laki.

Berbagai jenis polutan seperti PM10, PM2.5, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon, dan karbon monoksida diketahui berkaitan dengan kerusakan DNA serta penurunan konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma.

Mengutip siaran Hindustan Times (15/1), para ilmuwan mengamati adanya penurunan bertahap kualitas sperma pada pria yang tinggal di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi tinggi.

“Paparan lingkungan jangka panjang terhadap udara tercemar telah dikaitkan dengan air mani berkualitas rendah, yang berdampak pada konsepsi alami maupun konsepsi yang dibantu melalui IVF,” kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus ahli bedah laparoskopi Isha Nandal dari Yellow Fertility, Rohtak, India.

Menurut dr. Nandal, salah satu mekanisme utama yang mendasari penurunan kesuburan akibat polusi udara adalah stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas dalam tubuh meningkat secara berlebihan.

“Ketika racun melebihi pertahanan antioksidan alami tubuh, mereka mulai menyerang sel, termasuk sel sperma,” kata dr. Nandal.

Selain itu, paparan polusi udara jangka panjang juga dikaitkan dengan ketidakseimbangan hormon yang berperan penting dalam produksi sperma.

“Kadar testosteron yang dibutuhkan untuk produksi sperma dapat menurun atau berfluktuasi akibat ketidakseimbangan hormon yang dipicu oleh kontaminan,” kata dokter Nandal.

Ia merujuk pada hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Endocrinology, yang menyebutkan bahwa paparan polutan lingkungan dapat menyebabkan penurunan jumlah sperma hingga 50 persen.

“Kesehatan sperma mencerminkan gaya hidup dan paparan lingkungan dari 2-3 bulan terakhir, artinya apa yang dihirup pria hari ini dapat memengaruhi hasil kesuburan beberapa bulan kemudian,” kata dr. Nandal.

“Inilah mengapa percakapan tentang kesuburan harus berkembang; secara tradisional, diskusi seputar infertilitas berputar di sekitar jam biologis wanita, stres, berat badan, dan faktor gaya hidup,” ia menambahkan.

Dr. Nandal menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap hubungan antara polusi udara dan kesehatan reproduksi pria. Ia menyarankan langkah-langkah pencegahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Perubahan kecil dalam pilihan hidup sehari-hari, seperti menghindari area dengan lalu lintas padat, menggunakan pembersih udara di dalam ruangan, memastikan ventilasi yang baik, serta menghindari merokok, dapat sangat membantu menjaga kesehatan sperma,” katanya.