Jakarta, GPriority.co.id – Bertengkar dengan pasangan merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan.
Namun, cara pasangan menghadapi konflik dapat menentukan apakah pertengkaran menjadi jalan untuk saling memahami atau justru membuat hubungan semakin renggang.
Hal tersebut belum lama ini dibahas oleh relationship coach @jetveetlev yang dalam unggahan Instagram-nya membagikan 8 aturan bertengkar sehat untuk pasangan.
Ia disebut telah mendampingi pasangan membangun hubungan yang lebih sehat selama 20 tahun.
Menurut American Psychological Association (APA), konflik merupakan bagian dari hubungan, tetapi pola komunikasi seperti berteriak, kritik personal, atau menarik diri dari percakapan dapat berdampak buruk.
Sebaliknya, mendengarkan sudut pandang pasangan dan memahami perasaannya menjadi cara yang lebih konstruktif dalam menghadapi perbedaan.
Berikut delapan aturan bertengkar yang sehat, dibagikan @jetveetlev.
1. Haram name-calling, walau emosi sedang memuncak
Marah boleh, tetapi jangan merendahkan pasangan. “Dasar nggak berguna” atau hinaan lainnya bisa meninggalkan luka lebih lama daripada durasi pertengkaran. The Gottman Institute memasukkan name-calling sebagai bentuk penghinaan (contempt) yang dapat merusak komunikasi pasangan.
2. Pakai safe word dan ambil jeda
Jika mulai merasa akan mengucapkan sesuatu yang disesali, berhentilah sejenak. “Aku butuh satu jam untuk menenangkan diri. Habis itu kita lanjut ngobrol ya,” menjadi contoh yang diberikan. Jeda bukan berarti menghindari masalah, melainkan memberi kesempatan untuk menenangkan diri.
3. Bahas masalahnya, jangan menyerang karakter
Alih-alih mengatakan, “Kamu tuh emang ceroboh banget,” lebih baik fokus pada perilaku: “Aku sakit hati waktu kamu lupa sama hal yang udah kita sepakati.” Kritik terhadap karakter pasangan dapat memicu sikap defensif.
4. Stop menggali “dosa lama”
Jangan menjadikan konflik baru sebagai kesempatan membuka seluruh kesalahan masa lalu. Selesaikan masalah yang sedang dibahas terlebih dahulu.
5. Sebutkan need, jangan hanya protes
“Kamu jarang ngabarin” bisa diubah menjadi, “Aku pengen kalau kamu lagi sibuk, minimal kasih tahu supaya aku nggak bertanya-tanya.” Pasangan bukan cenayang sehingga kebutuhan perlu disampaikan dengan jelas.
6. Hindari refleks balas, “Kamu juga gitu!”
Dengarkan keluhan pasangan terlebih dahulu. Masalah lain tetap dapat dibicarakan setelah persoalan inti saat itu selesai.
7. Validasi perasaan pasangan
Validasi bukan berarti selalu setuju. Namun, pasangan perlu merasa didengar dan dipahami. Pendekatan terapi pasangan berbasis emosi juga menempatkan kebutuhan akan validasi sebagai bagian penting dalam membangun kembali kedekatan emosional.
8. Prioritaskan memperbaiki hubungan daripada menang berdebat
“Dalam hubungan, anda bisa menang argumen tapi kalah hubungan,” tulis @jetveetlev.
Menurutnya, tujuan konflik bukan menentukan siapa juara, melainkan memahami masalah, memperbaiki yang rusak, dan kembali menjadi satu tim.
“Karena hubungan yang sehat adalah setelah bertengkar, kalian masih ingat kalau musuhnya adalah masalah, bukan pasangan kalian,” pesan @jetveetlev.
