Astrocartography Jadi Tren Baru Menentukan Destinasi Liburan, Benarkah Efektif?

Ilustrasi liburan/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Ilustrasi liburan/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Tren memilih destinasi liburan kini tidak lagi hanya didasarkan pada anggaran, cuaca, atau rekomendasi media sosial. Pada 2026, semakin banyak wisatawan memanfaatkan astrocartography, cabang astrologi yang menghubungkan data kelahiran seseorang dengan lokasi geografis di seluruh dunia untuk menentukan destinasi yang dianggap paling sesuai dengan energi pribadi mereka.

Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi salah satu tren perjalanan yang mendapat perhatian sepanjang tahun ini.

Astrocartography merupakan metode yang memetakan posisi Matahari, Bulan, dan planet-planet saat seseorang lahir ke dalam peta dunia. Pendukung metode ini meyakini bahwa setiap garis planet memiliki makna berbeda, seperti mendukung karier, hubungan, kreativitas, hingga ketenangan batin.

Menurut laporan WION, semakin banyak pelancong berkonsultasi dengan ahli astrocartography sebelum memesan tiket perjalanan. Mereka berharap lokasi yang berada di garis planet tertentu dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna selama liburan.

Astrocartographer Helena Woods menjelaskan bahwa setiap garis planet menawarkan pengalaman yang berbeda bagi pelancong.

“Garis Matahari melambangkan antusiasme, semangat hidup, kreativitas, dan kemampuan mengekspresikan diri. Orang-orang biasanya merasa lebih hidup, penuh energi, dan mudah bersosialisasi ketika berada di garis Matahari,” ujar Woods.

“Ini juga merupakan garis yang sangat baik untuk mengalami transformasi dan menemukan kekuatan diri,” tambahnya.

Sementara itu, Woods menyebut garis Merkurius cocok bagi mereka yang ingin mempererat hubungan sosial selama bepergian.

“Pilih destinasi bercuaca hangat yang berada di garis Merkurius Anda. Garis ini sangat baik untuk percakapan dan menghabiskan waktu bersama orang lain,” sebut Woods.

Meski popularitas astrocartography terus meningkat, para pakar sains mengingatkan bahwa metode tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang dapat memverifikasi hubungan antara posisi benda langit dengan pengalaman seseorang di lokasi tertentu.

Karena itu, astrocartography lebih tepat dipandang sebagai bentuk kepercayaan atau pendekatan spiritual daripada metode ilmiah dalam menentukan tujuan wisata.

Terlepas dari perdebatan tersebut, tren perjalanan yang semakin personal memang terus berkembang. Laporan industri pariwisata menunjukkan wisatawan kini semakin tertarik merancang liburan yang mencerminkan minat, kepribadian, bahkan keyakinan mereka. Selain bantuan kecerdasan buatan (AI), astrologi menjadi salah satu referensi yang mulai digunakan dalam menyusun rencana perjalanan.

Bagi sebagian orang, astrocartography bukan sekadar menentukan lokasi liburan, melainkan cara mencari pengalaman baru yang dianggap lebih selaras dengan tujuan hidup.

Namun, keputusan akhir tetap sebaiknya mempertimbangkan faktor praktis seperti keamanan, anggaran, akses transportasi, kondisi cuaca, dan informasi destinasi yang dapat diverifikasi.