3 Alasan Konten Pamer Kekayaan Selalu Viral di Media Sosial

Konten pamer kekayaan atau flexing semakin viral di media sosial/Foto : Dok. Istimewa Konten pamer kekayaan atau flexing semakin viral di media sosial/Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena flexing di media sosial semakin marak di era digital. Hampir setiap hari, pengguna TikTok dan Instagram dapat menemukan konten seperti unboxing barang mewah, house tour, hingga a day in my life yang menampilkan gaya hidup serba mahal.

Konten pamer kekayaan tersebut tak jarang menuai kritik. Sebagian orang menganggap flexing sebagai bentuk overconsumption atau konsumsi berlebihan. Ada pula yang menilai kreator yang gemar memamerkan kemewahan kurang memiliki empati terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

Secara bahasa, flexing berasal dari istilah bahasa Inggris to flex, yang berarti menunjukkan atau memamerkan sesuatu. Istilah tersebut sebelumnya banyak dikaitkan dengan binaragawan yang mengencangkan otot untuk menunjukkan bentuk tubuhnya.

Di media sosial, maknanya berkembang menjadi perilaku memamerkan kekayaan, barang mewah, perjalanan, pencapaian, maupun gaya hidup.
Lantas, mengapa konten flexing selalu menarik perhatian dan mudah viral di media sosial? Berikut tiga alasannya.

1. Otak Manusia Suka Membandingkan

Menurut teori social comparison yang diperkenalkan psikolog Leon Festinger, manusia memiliki kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain.

Konten flexing menjadi pemicu yang mudah untuk melakukan perbandingan tersebut. Ketika melihat seseorang membeli mobil mewah, tinggal di rumah besar atau berlibur ke luar negeri, penonton dapat memberikan beragam respons, mulai dari kagum, penasaran, iri, hingga kesal.

Beragam emosi tersebut kemudian mendorong pengguna untuk menonton lebih lama, memberikan komentar, membagikan konten, atau bahkan membuat konten tandingan.

2. Algoritma Peduli Engagement

Alasan berikutnya berkaitan dengan cara kerja media sosial. Bagi algoritma, komentar berupa pujian maupun hujatan sama-sama dapat menjadi bentuk engagement.

Artinya, konten yang memancing perdebatan berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar. Berdasarkan kajian yang dikutip dalam unggahan Instagram @bigalphaid, like, komentar, dan jumlah pengikut dapat menjadi bentuk pengakuan sosial yang turut memperkuat perilaku flexing.

Semakin banyak orang bereaksi, semakin besar peluang konten tersebut terus beredar dan menjangkau pengguna baru.

3. Bisa Menjadi Strategi Bisnis

Di balik konten pamer kekayaan, terdapat pula kepentingan bisnis. Bagi sebagian kreator, menampilkan gaya hidup mewah dapat menjadi strategi untuk membangun citra kesuksesan.

Citra tersebut kemudian dapat digunakan untuk menawarkan endorsement, menjual kelas atau produk digital, hingga mempromosikan peluang investasi. Kemewahan dalam konteks ini berfungsi sebagai komunikasi simbolik untuk menunjukkan status sosial dan keberhasilan finansial.

Pada akhirnya, konten flexing viral bukan semata-mata karena barang mewah yang ditampilkan, tetapi karena konten tersebut menyentuh dua hal yang sangat manusiawi: rasa penasaran dan kebiasaan membandingkan diri.

Namun, sebagai penonton, pengguna media sosial tetap memiliki kendali. Setiap like, komentar, share, dan waktu yang dihabiskan untuk menonton merupakan bentuk perhatian yang ikut menentukan konten seperti apa yang terus mendapatkan ruang di media sosial.