Penulis : Dimas | Editor : Haris | Foto : Istimewa
Jakarta,GPriority.co.id-Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menyayangkan perubahan status operasi TNI di Kabupaten Nduga, naik menjadi siaga tempur.
“Kami menyayangkan keputusan Panglima TNI yang menaikkan status operasi TNI menjadi siaga tempur,” ujar Usman dikutip, Rabu (19/4).
Ia mengatakan selama puluhan tahun pendekatan keamanan terbukti tidak menyelesaikan kekerasan di Papua malah bertambah korban.
“Selama puluhan tahun, Jakarta menerapkan pendekatan keamanan dalam mengatasi konflik di Papua, selama itu pula korban terus berjatuhan. Pendekatan keamanan terbukti tidak menyelesaikan kekerasan di Papua. Namun negara tidak pernah belajar dari pengalaman ini,” lanjutnya.
Menurutnya, hal ini akan berdampak besar kepada keselamatan warga sipil hingga potensi pelanggaran ham.
“Status siaga tempur ini merupakan keputusan dengan dampak yang besar dan hingga diumumkan Panglima TNI, belum ada keputusan politik dari negara terkait status ini,” tutur Usman.
“Potensi pelanggaran HAM dengan korban jiwa juga makin besar, apabila kita merujuk pada insiden kekerasan empat tahun belakangan ini. Dan korbannya tidak hanya warga sipil, namun juga dari kalangan aparat keamanan,” sambungnya.
Maka dari itu, Usman menyerukan agar menghentikan operasi militer dengan status siaga tempur dengan mengedepankan pendekatan dialog.
“Kami menyerukan agar aparat keamanan segera menghentikan operasi militer dengan status siaga tempur TNI, mengedepankan pendekatan dialog dengan kelompok pro-kemerdekaan dan pihak-pihak terkait untuk mencegah potensi pelanggaran HAM dan krisis kemanusiaan yang lebih besar,” seru Usman.
Sebelumnya, laporan media menyebutkan bahwa Panglima TNI Laksamana Yudo Margono pada Selasa (18/4) menaikkan status operasi TNI dari pendekatan lunak (soft approach) menjadi siaga tempur. Peningkatan status ini dilakukan setelah terjadinya serangan dari kelompok pro-kemerdekaan Papua pada Sabtu (15/4) yang telah menewaskan seorang prajurit TNI, empat orang luka-luka, dan empat orang lainnya hilang di Nduga, Papua Pegunungan, seperti yang dikutip Panglima TNI.
Insiden ini terjadi saat TNI dikabarkan tengah mencari pilot Susi Air asal Selandia Baru, Phillip Mehrtens, yang disandera Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat pimpinan Egianus Kogoya sejak 7 Februari 2023.
