Jakarta, Gpriority.co.id – Dalam satu kesempatan saat dimintai keterangan oleh media ini mengenai persiapan menyambut hari Noken UNESCO, Titus Pekei pun mengisahkan memperjuangkan Noken jadi warisan budaya dunia Dikisahkan Titus Pekei, suka duka dibalik memperjuangan noken tidaklah mudah. Butuh waktu 4 tahun lamanya.
“Sejak 2008 hingga 4 Desember 2012. UNESCO menerima berkas nominasi noken pada Maret 2011, saat itu, dewan konsultatif UNESCO, menanyakan peta wilayah penyebaran Noken di wilayah Papua,” ungkapnya.
“Kami sampaikan peta, tujuh wilayah adat budaya Papua. Saya tidak mengetahui Misteri Allah bagi Noken Mama Papua di tujuh Wilayah Adat Papua. Mamta, Saireri, Bomberai, Domberai, Anim-Ha, La-Paho, Mepago adalah wilayah Noken,” sambung Titus.
Lebih Lanjut dijelaskan Titus, Noken adalah bahasa papua, seperti tas bahasa Indonesia. Bag bahasa Inggris. Inawe bahasa Biak, Agiya bahasa Mee, Ombo bahasa Miganiw, Wii bahasa Amungme, Etae bahasa Mimika, MEN bahasa Ngalum-Muyu, INII bahasa Wambon, Ese bahasa Asmat, YUU bahasa Maybrat, Kiwok bahasa Moi Sorong, Tomang bahasa Mbaham Fakfak dan lainnya.
“Noken adalah bahasa pemersatu suku-suku di tanah Papua. Seperti BILLUM di PNG yaitu Papua Timur,” jelas Titus Pekei Dengan demikian, noken pun diterima oleh dewan konsultatif UNESCO.
“Saya sangat terharu dan bahagia, akhirnya budaya papua diakui dunia,” tutupnya.
Foto: Dok.Titus Pekei
