Jakarta, GPriority.co.id– Ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi terkini di Indonesia terwujud dalam sejumlah gerakan yang memprotes kebijakan Presiden Prabowo Subianto dan pendahulunya. Adapun salah satu gerakan tersebut yakni unjuk rasa nasional bertajuk Indonesia Gelap yang berlangsung pada Senin (17/2).
Ribuan mahasiswa turun ke jalan berbagai kota yang dikoordinasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Demonstrasi tersebut diperkirakan berlangsung selama tiga hari dan akan berlangsung serentak di sejumlah daerah.
Di Jakarta, unjuk rasa difokuskan di Patung Arjuna Wiwaha Jalan Medan Merdeka Barat dan Jalan MH Thamrin, bersebelahan dengan Lapangan Monumen Nasional. Protes tersebut juga menjadi tren media sosial dengan gambar lambang negara Garuda yang berlatar belakang hitam dan bertuliskan tagar #IndonesiaGelap.
Para demonstran mengklaim Indonesia tidak sedang menuju visi Indonesia Emas, tetapi justru sedang menuju kegelapan. Pada 2024, muncul berbagai meme yang bercanda bahwa slogan Indonesia Emas seharusnya diganti dengan Indonesia Cemas atau bahkan Indonesia Lemas.
“Kebijakan negara kita makin represif dan merugikan rakyat. UUD 1945 dan Pancasila harus dijunjung tinggi demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” kata BEM SI dalam surat edaran yang dikutip Kamis (20/2).
BEM SI menuntut transparansi program makanan bergizi gratis, menolak revisi UU Minerba, menolak dwifungsi TNI, menuntut mantan presiden Joko Widodo diadili, dan mendesak pengesahan RUU sita aset.
Sementara itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) juga melayangkan tuntutan tersendiri.
Adapun tuntutan BEM UI antara lain mencabut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang pemotongan anggaran karena berdampak negatif terhadap masyarakat; menghapus ketentuan dalam UU Pertambangan yang direvisi yang memungkinkan universitas mengelola operasi pertambangan; memastikan pencairan tunjangan kinerja penuh dan tanpa hambatan bagi dosen dan staf akademik; merombak program makan gratis dengan menghapusnya dari anggaran pendidikan dan menghentikan penerapan kebijakan yang tidak mempertimbangkan penelitian ilmiah dan kesejahteraan publik.
Ketua BEM UI Iqbal Cheisa Wiguna memperingatkan jika pemerintah tidak menanggapi protes Senin (17/2), demonstrasi yang lebih besar akan menyusul.
“Mungkin ada tindakan lebih lanjut, dan itu pasti dalam skala yang lebih besar,” katanya dilansir dari Media Malaysia The Star.
Secara terpisah di Surabaya, Jawa Timur, unjuk rasa yang mengkritik pemerintahan Prabowo berubah menjadi kekerasan setelah mahasiswa bentrok dengan polisi. Para mahasiswa yang menyampaikan tuntutan serupa dengan tuntutan di Jakarta, awalnya meminta anggota DPRD Jawa Timur untuk menemui mereka.
Tiga anggota DPRD memang sempat mendatangi mereka, tetapi ditolak oleh mahasiswa yang kemudian meminta Ketua DPRD Musyafak Rouf untuk menemui mereka. Musyafak setuju untuk berbicara dengan para mahasiswa dan menandatangani tuntutan mereka serta berjanji akan menyampaikannya kepada pemerintah pusat.
Berikut ini beberapa media asing yang menyoroti aksi demonstrasi tersebut sebagai berikut
- Taiwan Plus News
Media Taiwan, Taiwan Plus News juga melaporkan dalam bentuk audio visual bertajuk Indonesia Mass Protests (Protes warga Indonesia). Dalam video itu, tampak ratusan pelajar yang mengenakan almamater kuning membentuk barikade dengan bergandeng tangan.
“Ribuan orang berunjuk rasa di seluruh negeri menolak pemotongan anggaran,” demikian dalam tulisan tersebut.
Taiwan Plus News melaporkan aksi Indonesia Gelap. Dalam laporan mereka, para pengunjuk rasa memprotes pemangkasan anggaran yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo. Demonstran juga menolak Makan Bergizi Gratis sebagai program prioritas pemerintah.
“Ribuan mahasiswa Indonesia dari berbagai universitas turun ke jalan akibat kebijakan pemotongan anggaran,” kata penyiar Taiwan Plus News.
- Straits Times
Media asal Singapura Straits Times melaporkan hal serupa. Aksi protes Indonesia Gelap pecah pelajar turun ke jalan demikian judul laporan Straits Times yang dirilis pada Selasa (18/2).
Pada paragraf pertama, mereka menulis ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo Subianto yang memicu aksi tersebut. Ketua BEM UI Iqbal Cheisa Wiguna memperingatkan, jika pemerintah tidak menanggapi aksi unjuk rasa ini, demonstrasi yang lebih besar akan terjadi.
The Straits Times, dalam laporan menyoroti ribuan mahasiswa yang dikoordinasi BEM SI turun ke jalan di berbagai kota untuk memprotes Prabowo. Media itu juga menyinggung soal media gambar Garuda dengan latar belakang hitam disertai tagar #IndonesiaGelap yang dikenal sebagai Garuda Hitam.
The Straits Times mengatakan para pengunjuk rasa menilai Indonesia tidak mengalami kemajuan menuju visi Indonesia Emas, tetapi malah menuju kegelapan. Dalam laporan itu juga disebutkan perubahan slogan Indonesia Emas menjadi Indonesia Cemas atau Indonesia Lemas.
- South China Morning Post
Surat kabar berbahasa Inggris yang berbasis di Hong Kong, South China Morning Post melaporkan dengan judul Most deadly 100 days: Indonesia’s Prabowo faces major student protests against costly policies.
Tulisan media itu, melaporkan empat bulan menjabat sebagai presiden, Prabowo Subianto menghadapi protes mahasiswa nasional pertamanya, yang tuntutannya meliputi evaluasi menyeluruh atas program-programnya yang mahal, pilihan kabinet dan pemotongan anggaran yang didorong oleh penghematan.
Protes itu berlangsung pada hari Senin dan Selasa beberapa kota di seluruh negeri, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Bali.
- Asia News Network
Media besar milik Nation Multimedia Group, Asia News Network menulis judul Indonesia President Prabowo sees major protests early in presidency. Adapun laporan itu menjelaskan Presiden Prabowo Subianto menghadapi protes besar pertama dalam masa jabatannya, hanya tiga bulan setelah menjabat. Hal ini dipicu oleh langkah-langkah penghematan yang dimaksudkan untuk mendanai janji-janji kampanyenya yang ambisius.
Berbaris dengan bendera dan spanduk bertuliskan Indonesia Gelap, ribuan mahasiswa di seluruh negeri baru-baru ini turun ke jalan untuk memprotes kebijakan pemerintah baru yang mereka katakan semakin represif dan merugikan rakyat.
Pada Januari, Presiden mengeluarkan instruksi presiden yang menyerukan pemotongan total belanja negara sebesar Rp 306,7 triliun (USD 18,7 miliar) pada 2025 untuk mendanai inisiatifnya, termasuk program makanan gratis.
Namun pada Sabtu (15/2), presiden mengatakan ia mengincar lebih banyak penghematan, lebih dari Rp 750 triliun melalui berbagai fase konsolidasi fiskal tahun ini.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan mengalami pemotongan hingga Rp 8 triliun, termasuk program sertifikasi yang didanai negara bagi guru di seluruh negeri yang memberi mereka akses ke tunjangan bulanan.
Aksi unjuk rasa mahasiswa di seluruh negeri itu menuntut, antara lain, pembatalan pemotongan anggaran dan evaluasi menyeluruh terhadap program makanan gratis. Mahasiswa mendesak agar program tersebut tidak digunakan sebagai alat politik belaka dan menjangkau keluarga berpenghasilan rendah yang menjadi sasaran.
- UCA News
Dalam laporan UCA News, protes publik, khususnya mahasiswa, menjadi sorotan utama dalam artikel Indonesian Govt’s Austerity Push Sparks Concern, Protests yang tayang pada Selasa (18/2). Media asal Hong Kong itu menulis protes yang dilayangkan berhubungan dengan kebijakan efisiensi anggaran negara yang berdampak rakyat.
Publik Indonesia mendesak pemerintah untuk membatalkan kebijakan tersebut karena efisiensi anggaran dianggap mengurangi pengeluaran kementerian dan lembaga yang ditujukan untuk orang miskin dan kelompok rentan.
UCA News juga melaporkan efisiensi anggaran membuat kementerian dan lembaga serat pendanaan. Instansi yang terdampak ini meliputi Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Media itu juga menyoroti tagar #IndonesiaGelap yang ramai diperbincangkan melalui media sosial.
- Asia News
Asia News yang berpusat di Milan, Italia tidak ketinggalan. Dalam laporan Indonesian students take to the streets against Prabowo’s policies, media itu juga memberitakan aksi protes berbagai kota yang disertai tagar #IndonesiaGelap.
“Dalam hitungan jam, slogan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 785.000 postingan di X. Di Surabaya, Jawa Timur, sebuah demonstrasi berubah menjadi kekerasan ketika mahasiswa bentrok dengan polisi,” tulis Asia News.
Dalam laporan mereka, perubahan slogan Indonesia Emas ke Indonesia Cemas menjadi sorotan. Mereka juga melaporkan pemangkasan anggaran yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo.
“Banyak masyarakat Indonesia khawatir bahwa langkah-langkah ini akan semakin merugikan layanan publik dan kelompok masyarakat yang paling lemah,” tulis laporan tersebut.
Sebelum munculnya lambang Garuda Hitam, ada peringatan Garuda Biru yang muncul menjelang pemilihan kepala daerah pada November 2024, setelah Mahkamah Agung memutuskan untuk menurunkan batas usia calon kepala daerah.
Putusan pengadilan tersebut akan memungkinkan putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, untuk mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta. Namun, Mahkamah Konstitusi bersikeras agar batasan usia 30 tahun diberlakukan kembali. Dengan tidak berubahnya batasan usia tersebut, Kaesang tidak dapat mencalonkan diri sebagai calon gubernur.
Selain gerakan Garuda Hitam, bentuk ketidakpuasan publik lainnya adalah tagar #KaburAjaDulu yang baru-baru ini muncul, yang mendorong warga negara Indonesia untuk bekerja dan belajar di luar negeri, meninggalkan kekacauan di dalam negeri.
Manifestasi ekstrem dari gerakan ini merupakan penolakan kewarganegaraan Indonesia. Pendukung #KaburAjaDulu berpendapat bahwa dengan bekerja di luar negeri, mereka sebenarnya membantu pemerintah dengan mengirimkan uang ke negara asal, serta mengurangi tekanan pengangguran, karena pemerintah gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup di dalam negeri. Namun, pejabat negara telah menepis seruan tersebut.
“Kalau mereka mau kabur, kabur saja. Jangan kembali, kalau perlu,” kata Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer.
Meskipun Prabowo telah menugaskan Kementerian Ketenagakerjaan untuk mempersiapkan warga negara Indonesia dapat bekerja di luar negeri.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, bagaimanapun, menegaskan tagar tersebut merupakan tantangan bagi pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan di dalam negeri.
“Sebenarnya ada peluang untuk bekerja di luar negeri. Jadi semangatnya sebenarnya tidak hilang,” katanya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, yang baru-baru ini membuat kegaduhan dengan pengaturan baru yang gagal dalam penjualan tabung LPG 3 kilogram bersubsidi, mempertanyakan nasionalisme orang Indonesia yang memutuskan untuk bekerja di luar negeri.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid mengatakan orang Indonesia yang lebih suka bekerja di luar negeri tidak memiliki patriotisme.
“Jika ada [tagar] KaburAjaDulu, mereka orang Indonesia atau bukan?” tanya Nusron.
“Jika kita benar-benar patriot, kita akan menyelesaikan masalah apa pun yang muncul bersama-sama.” katanya.
Foto: Garuda Hitam menyampaikan ketidakpuasan kaum muda terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan pendahulunya. (X.com/-)
