Benarkah Kualitas Kepemimpinan Suami Dilihat Dari Cara Ia Menafkahi Keluarganya?

Ustadz Iqbal Bin Jalal Al Atsary melalui postingan Instagramnya, mengingatkan pentingnya tanggung jawab suami dalam memenuhi kebutuhan keluarganya/Foto : Ilustrasi Dok. Dreamstime Ustadz Iqbal Bin Jalal Al Atsary melalui postingan Instagramnya, mengingatkan pentingnya tanggung jawab suami dalam memenuhi kebutuhan keluarganya/Foto : Ilustrasi Dok. Dreamstime

Jakarta, GPriority.co.id – Kepemimpinan seorang suami dalam rumah tangga tidak hanya diukur dari kemampuannya mengambil keputusan atau mendapatkan penghormatan dari anggota keluarga. Tanggung jawab dalam memenuhi nafkah istri dan anak juga menjadi salah satu bukti nyata kepemimpinan yang harus dijalankan dengan penuh amanah.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Iqbal Bin Jalal Al Atsary melalui ceramah yang dilansir dari unggahan akun Instagram resminya, @iqbalbinjalal_official, Jumat (23/10). Dalam pesan bertajuk “Kepemimpinan Suami Terlihat dari Cara Ia Menafkahi”, ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab suami dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Menurut pesan tersebut, masih banyak orang yang memahami kepemimpinan suami sebatas kemampuan memberi perintah, menentukan keputusan, atau menjadi sosok yang disegani di dalam rumah. Padahal, kepemimpinan sejati juga tercermin dari kesungguhan seorang suami dalam menjalankan kewajibannya.

Nafkah bukan sekadar persoalan besar atau kecilnya nominal uang yang diberikan. Lebih dari itu, nafkah berkaitan dengan tanggung jawab, ikhtiar mencari rezeki yang halal, serta kesadaran bahwa keluarga merupakan amanah yang harus dijaga.

Setiap penghasilan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anak mengandung tanggung jawab moral dan agama. Karena itu, seorang suami tidak seharusnya hanya menuntut penghormatan dari keluarganya, tetapi juga perlu memastikan hak-hak mereka telah dipenuhi.

Pesan tersebut juga mengingatkan bahwa keharmonisan rumah tangga tidak dibangun hanya melalui tuntutan terhadap pasangan. Rumah tangga yang kokoh tumbuh ketika setiap anggota keluarga menjalankan kewajibannya dan memenuhi hak satu sama lain.

Dalam ajaran Islam, tanggung jawab menafkahi keluarga juga mendapat perhatian melalui hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud).

Hadis tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya memenuhi kebutuhan orang-orang yang berada dalam tanggungan, termasuk istri dan anak. Tanggung jawab ini tidak semestinya diabaikan karena berkaitan dengan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan.

Melalui pesan tersebut, para suami diajak untuk mengevaluasi kembali makna kepemimpinan dalam keluarga. Menjadi pemimpin bukan semata-mata tentang posisi atau kewenangan, melainkan kesediaan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.

Harapannya, setiap suami mampu menafkahi keluarganya melalui rezeki yang halal, membawa keberkahan, dan menjadikan rumah tangga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pesan penutup dalam ceramah tersebut juga berisi doa agar Allah menjadikan para suami sebagai pemimpin yang amanah, mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, serta mengantarkan mereka menuju surga-Nya.