BNPB Uji Coba Penyemaian Dry Ice untuk Mengurai Asap Karhutla di Sumatera Selatan

Palembang, GPriority.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) berupa penyemaian dry ice atau es kering untuk mengurangi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan. Penerbangan pertama penyemaian dilakukan pada Kamis (15/10).

Metode tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi konsentrasi asap dan polusi di wilayah terdampak karhutla. Pada kondisi karhutla, asap yang pekat dapat terperangkap di lapisan atmosfer akibat adanya lapisan inversi, sehingga sulit bergerak naik dan menyebabkan jarak pandang menurun.

Melalui penyemaian dry ice, atmosfer diharapkan menjadi lebih labil sehingga asap karhutla yang terperangkap dapat bergerak naik dan menyebar. Dengan demikian, konsentrasi asap berkurang dan jarak pandang atau visibility meningkat.

Pelaksanaan Uji Coba

Untuk mendukung operasi, BNPB mengerahkan satu armada Cessna Caravan dengan registrasi PK-SNP. Pada pelaksanaan awal, dua sorti penerbangan telah dilakukan dengan penyemaian pada ketinggian sekitar 4.500 kaki.

Masing-masing sorti membawa bahan semai seberat 800 kilogram. Pesawat diterbangkan dari Bandar Udara Raden Inten II di Lampung, dengan titik penyemaian difokuskan di wilayah sekitar ring satu Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

Fokus lokasi tersebut diharapkan mampu mengurai gangguan terhadap mobilitas penerbangan di wilayah Sumatera Selatan. Laporan sementara menunjukkan peningkatan jarak pandang di sekitar wilayah penyemaian, dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter.

Berbeda dengan OMC Hujan

Berbeda dengan material natrium klorida (NaCl) yang umum digunakan pada OMC hujan dan berwujud serbuk halus, dry ice berbentuk butiran atau powder berukuran sekitar tiga milimeter. Material tersebut memiliki suhu dingin sekitar minus 75 derajat Celsius.

Metode penyemaian dry ice juga tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan. Berbeda dengan OMC hujan yang bertujuan merangsang turunnya hujan untuk membantu pemadaman, teknologi ini difokuskan pada upaya mengurangi dampak kabut asap di kawasan perkotaan dan sekitarnya.

Uji coba OMC dry ice akan dilaksanakan hingga 18 Oktober 2026. Setelah itu, pemerintah akan melakukan evaluasi dan komunikasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk mengembangkan atau menerapkan metode tersebut di wilayah terdampak karhutla lainnya.

Tindak Lanjut Arahan Presiden

Penerapan perdana teknologi dry ice tersebut merupakan tindak lanjut instruksi langsung Presiden RI Prabowo Subianto dalam mempercepat penanganan dampak karhutla. Menko Polkam Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman bahkan sempat meninjau kesiapan penerapan teknologi tersebut di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, Rabu (14/10).

Sumatera Selatan menjadi lokasi pertama uji coba di Indonesia, dengan rencana penyebaran 1,5 ton dry ice menggunakan pesawat. Operasi ini diharapkan dapat meningkatkan jarak pandang dari sekitar 1.000 meter menjadi 5.000 meter atau lebih.

Jika terbukti efektif, metode serupa akan dipertimbangkan untuk diterapkan di wilayah terdampak karhutla lainnya, termasuk Kalimantan Tengah. Dalam kegiatan tersebut, Menko Polkam didampingi Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan, Sekretaris Menko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, serta jajaran terkait.

Pemerintah menegaskan akan terus mengoptimalkan berbagai langkah penanganan karhutla melalui pemadaman, pemanfaatan teknologi, dan koordinasi lintas instansi. Upaya tersebut diarahkan untuk melindungi kesehatan serta keselamatan masyarakat dari dampak asap kebakaran hutan dan lahan.

Foto : BNPB