Cerita Wanita Ibu Kota, di balik Cinta, Impian, dan Kesepian

Menjadi seorang wanita di tengah Jakarta, memang miliki banyak kisah. Dimulai dari meniti sebuah karir, perjalanan asmara, proses raih impian, dan seringkali mengorbankan waktu kebersamaan bersama teman. Harus berani ambil risiko dari setiap pilihan. Ada yang bilang, wanita yang berkarir hatinya lebih kuat dalam hadapi beberapa situasi kesulitan. Alasan ini karena, Ia sering terbentur dengan keadaan yang harus dihadapi dengan jiwa yang lapang.

Tapi, kadang, wanita Ibu Kota jadi subjek kegagalan menjadi seorang Ibu rumah tangga. Banyak anggapan buruk, beberapa nada sumbang mengatakan; seharusnya wanita itu sepenuhnya menjaga anak di rumah. Stigma egois sering kali menghampiri para wanita karir yang sudah berumah tangga. Namun, mereka tetap bisa menjalaninya. Bukankah setiap pilihan (berkarir atau menjadi Ibu Rumah Tangga) miliki porsi rintangannya sendiri. Terkadang orang lain hanya melihat di permukaan, tanpa menyelami keseharian.

Begitu pula dengan wanita di rentang usia 25-an. Mereka sedang di fase melibatkan segala urusan. Ditambah urusan asmara yang belum tau kemana arahnya. Pontang-panting dengan pijakan, digoyahkan dengan omongan orang yang terkadang mematahkan semangat “kapan nikah?” Lalu, segala hal mulai dipertanyakan di dalam benak; “kapan punya rumah?” “tabungan sudah cukup banyak belum ya?”

Selanjutnya, rasanya pertemanan semakin sempit. Canda tawa seperti dulu seolah jadi barang langka di tengah kehidupan. Teman-teman yang dulu bersama, kini mulai berjarak dan berbeda cerita. Kesibukan jadi alasan utama di antara pertemuan. Kini, kesepian mulai sering berkunjung di penghujung hari. Rasa penat seharian bekerja, masih dipikul seorang diri. Begitulah segelintir kisah tentang wanita ibu kota menghadapi cinta, impian, dan kesepian.(Ega.Foto.Istimewa)