Jakarta, Gpriority.co.id – Beberapa saat sebelum jatuh, situasi dan kondisi dalam pesawat Yeti Airlines yang membawa 72 penumpang pada Minggu (15/01) terlihat normal dan baik-baik saja. Hal itu terlihat dari siaran langsung di Facebook seorang penumpang asal India bernama Sonu Jaiswal yang gembira menjelang pendaratan. Beberapa saat kemudian situasi pun berubah mencekam dengan bunyi ledakan dan api yang berkobar.
The Times of India melaporkan Sonu Jaiswal merupakan warga Ghazipur di Uttar Pradesh yang bermaksud ibadah di sebuah kuil yang terdapat di Kathmandu, Nepal. Sonu bepergian bersama teman-temannya. Wajah mereka tampak riang dalam video siaran langsung Facebook berdurasi 1.30 detik tersebut. Sonu memperlihatkan bagaimana pesawat yang tengah melayang diatas kota Pokhara serta wajah teman-temannya dalam kabin pesawat.
Dalam pesawat yang kemudian oleng itu tak lama terdengar teriakan panik penumpang serta ledakan bercampur bola api yang memendar dimana-mana. Video memilukan itu kemudian menimbulkan beragam polemik. Ada yang meminta untuk tidak disebarkan video kecelakaan itu, namun tak sedikit pula yang menyayangkan tayangan live Facebook yang dilakukan oleh Sonu Jaiswal itu sendiri. Banyak warganet yang bertanya-tanya kenapa bisa menyalakan handphone dengan sinyal terbuka dalam pesawat yang tengah terbang.
Otoritas perhubungan Nepal memang belum mengumumkan secara resmi penyebab jatuhnya Yeti Airlines yang menewaskan seluruh penumpangnya tersebut lantaran masih dalam tahap penyelidikan. Namun perlu diketahui, berdasarkan penelitian ilmiah yang dipublikasikan oleh IEEE Spectrum pada 2006, sinyal telepon seluler/Handphone dapat mengganggu sistem elektronik pesawat. Sky Scanner dalam artikelnya juga menyebut, perangkat elektronik memancarkan gelombang radio yang dapat mempengaruhi suasana di sekitar pesawat.
Menjelang terbang, avionik sebuah pesawat membutuhkan informasi yang akurat untuk navigasi dan menjaga supaya seluruh bagian pesawat bekerja secara harmonis. Jika ada sinyal yang mengganggu, komponen avionik mengubah pembacaan dan memicu sistem melakukan penyesuaian yang tidak perlu. Demikian halnya saat pesawat hendak mendarat, pancara sinyal telepon seluler dapat menyebabkan komunikasi radio di kokpit terganggu. Ya, proses take off dan landing merupakan kondisi krusial dalam dunia penerbangan. Karenanya membutuhkan konsentrasi tinggi dan harus jauh dari ‘gangguan.’
Atas dasar itu awak kabin selalu meminta semua penumpang pesawat untuk mematikan telepon selulernya menjelang terbang. Permintaan itu tentu harus diikuti seluruh penumpang demi keamanan. Travel and Leisure menegaskan ketika penumpang berada di dalam pesawat, semua perangkat elektronik mesti dimatikan dan telepon seluler juga dipastikan dalam mode pesawat, tindakan itu adalah sikap terbaik penumpang. (dbs/PS)
