Mengenang Dalang Ki Anom Suroto, Sang Maestro Pewayangan

Dalang Ki Anom Suroto, wafat di usia 77 tahun. Foto: instagram/anomsuroto48 Dalang Ki Anom Suroto, wafat di usia 77 tahun. Foto: instagram/anomsuroto48

Jakarta, GPriority.co.id – Dunia seni Indonesia berduka atas wafatnya Ki Anom Suroto, maestro wayang kulit yang dikenal sebagai penjaga tradisi sekaligus panutan dalam dunia pewayangan. Ia meninggal dunia pada Kamis (23/10).

Ki Anom Suroto wafat pada usia 77 tahun. Sebelumnya, beliau mengalami serangan jantung dan dirawat di Rumah Sakit Dr. Oen Kandang Sapi, Jawa Tengah.

Dikenal dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro, Ki Anom Suroto lahir pada tanggal 11 Agustus 1948. Beliau mulai dikenal sebagai dalang pada tahun 1975-an. Ki Anom Suroto belajar pedalangan dari ayahnya, Ki Sadiyun Harjadarsana, sejak usia 12 tahun.

Selain itu, Ki Anom juga mengikuti kursus pedalangan yang diselenggarakan oleh Himpunan Budaya Surakarta (HBS). Ia juga belajar di Habiranda, Yogyakarta, dengan nama samaran Margono.

Perjalanan karier Ki Anom Suroto dimulai dengan penampilannya di Radio Republik Indonesia (RRI) pada tahun 1968 setelah melalui proses seleksi yang ketat. Pada tahun 1995, Presiden Soeharto menganugerahkan Satyalancana Kebudayaan RI kepadanya.

Selain itu, pada tahun 1997, Ki Anom diresmikan sebagai Bupati Sepuh dan dianugerahi nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro. Hingga akhir abad ke-20, Ki Anom Suroto adalah satu-satunya dalang yang pernah pentas di lima benua. Ia mendalang di Amerika Serikat dalam rangka acara Kebudayaan Indonesia di AS (KIAS) pada tahun 1991.

Ki Anom tidak hanya terkenal sebagai dalang panggung, tetapi juga memberikan kontribusi besar dalam pembentukan generasi muda. Beliau mendirikan forum rutin yang disebut Rebo Legen di rumahnya setiap hari Rabu Legi. Acara ini berfungsi sebagai ruang diskusi, kritik, dan pertukaran ide antarseniman dalang, serta tempat berkumpulnya para pegiat pedalangan.

Melalui Rebo Legen, Ki Anom berupaya menumbuhkan kecintaan terhadap wayang kulit di kalangan remaja sekaligus menghubungkan tradisi klasik dengan gaya kontemporer. Ki Anom juga menerima banyak penghargaan bergengsi atas kerja keras dan kontribusinya yang luar biasa. Pada tahun 1992, Gubernur Jawa Tengah memberikan penghargaan Upakara Pradana Budaya di tingkat provinsi. Dua tahun kemudian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penghargaan kepada Ki Anom atas upayanya melestarikan seni tradisional.

Pada tahun 1995, Presiden Republik Indonesia memberikan tanda kehormatan Satyalancana Kebudayaan RI sebagai pengakuan atas upaya beliau mempertahankan dan mengembangkan seni pedalangan. Selain itu, pada Pekan Wayang Indonesia VI tahun 1993, ia juga terpilih sebagai “Dalang Kesayangan” dalam Angket Wayang.

Beliau dipercaya organisasi sebagai Ketua III Pengurus Pusat PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) dari tahun 1996 hingga 2001. Karya dan penghargaan bukan satu-satunya warisan Ki Anom Suroto; beliau juga berkomitmen pada pelestarian seni pedalangan.

Beliau sangat dikenal oleh rekan sejawatnya sebagai pribadi yang sederhana, disiplin, dan teguh dalam mempertahankan prinsip seni. Kepergian Ki Anom meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni tradisi Indonesia. Beliau berfungsi sebagai penghubung antara generasi dalang klasik dan era modern. Warisan karya, murid-murid, dan semangat beliau untuk melestarikan wayang kulit akan terus hidup dalam perjalanan kebudayaan bangsa, meskipun beliau telah tiada.

Pewarta: Rizqi Juned

Editor: Dimas A Putra