Navi Pillay Raih Nobel Perdamaian 2026

Oslo, GPriority.co.id – Ahli hukum asal Afrika Selatan, Navanethem “Navi” Pillay, memenangkan Nobel Perdamaian 2026. Pengumuman kemenangan itu disampaikan Komite Nobel Norwegia di Oslo, Jumat (9/10), sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian dan hukum internasional.

Komite Nobel menyebut Pillay berperan penting memastikan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida dapat dituntut. Penghargaan tersebut dinilai sebagai pesan bagi pihak yang berupaya melemahkan lembaga dan sistem hukum internasional.

Komite Nobel Norwegia menerima nominasi untuk 287 kandidat pada Nobel Perdamaian 2026. Lebih dari seperempat nominasi berasal dari organisasi.

Pillay dipilih karena kontribusi jangka panjangnya dalam memperjuangkan keadilan internasional. Komite Nobel menilai karyanya membantu membangun tatanan hukum global yang lebih komprehensif dan menunjukkan bahwa langkah hukum dapat mencegah tindakan perang serta kekerasan.

Komite juga menyebut penghargaan itu diberikan di tengah meningkatnya serangan politik terhadap hukum internasional. Dalam konteks tersebut, perjuangan Pillay untuk akuntabilitas atas kejahatan internasional dinilai semakin penting.

Pillay memiliki rekam jejak panjang dalam penegakan hak asasi manusia dan hukum internasional. Ia pernah menjadi hakim di International Criminal Tribunal for Rwanda, hakim International Criminal Court (ICC) pada 2003–2008, serta menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pada 2008–2014.

Perannya paling menonjol dalam memimpin Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, termasuk Yerusalem Timur dan Israel, pada 2021–2025. Komisi tersebut menyimpulkan bahwa Israel melakukan tindakan genosida di Gaza dan menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant menghasut pelaksanaan genosida.

Pillay juga dikenal sebagai tokoh perjuangan antiapartheid di Afrika Selatan. Ia pernah membela hak-hak Nelson Mandela yang saat itu ditahan, sebelum kemudian membangun karier internasional dalam penuntasan kejahatan perang dan impunitas.

Reaksi Israel

Israel menolak temuan komisi yang dipimpin Pillay dan mengecam keras pemberian Nobel Perdamaian 2026 kepadanya. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut keputusan tersebut sebagai “senjata” penghargaan yang digunakan secara tidak pantas untuk melegitimasi kebencian dan prasangka anti-Israel.

Israel juga menuduh Pillay menyebarkan tuduhan palsu terhadap negaranya. Sebaliknya, komunitas internasional dan sejumlah pengamat menilai penghargaan tersebut menegaskan pentingnya akuntabilitas hukum internasional atas pelanggaran serius di Gaza.

Pillay sendiri mendedikasikan penghargaan tersebut bagi para penyintas kejahatan internasional.

Profil Navi Pillay

Navanethem Pillay lahir di Durban, Afrika Selatan, pada 23 September 1941, dari keluarga keturunan India. Ia memulai karier hukum pada masa apartheid, ketika diskriminasi rasial dan gender membatasi peluang profesionalnya serta hak-hak kliennya.

Ia menjadi pengacara dan dosen universitas, serta perempuan pertama yang membuka praktik hukum sendiri di Natal, kini KwaZulu-Natal. Pillay juga menjadi perempuan kulit hitam pertama yang menjabat sebagai hakim di High Court Natal.

Pillay kemudian membangun karier internasional sebagai hakim di International Criminal Tribunal for Rwanda, hakim ICC, dan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia. Ia juga menjadi salah satu pendiri organisasi hak perempuan internasional Equality Now.

Kemenangan Nobel Perdamaian 2026 menjadikan Pillay perempuan Afrika Selatan pertama yang meraih penghargaan tersebut.

Foto : United Nation