Pakai Bahasa Jawa, Anggota Parlemen Malaysia Sentil Prabowo soal Asap Karhutla

Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, saat mengkritik Prabowo soal Karhutla dalam agenda sidang Dewan Rakyat Malaysia, Rabu (21/10) lalu/Foto : Dok. Istimewa Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, saat mengkritik Prabowo soal Karhutla dalam agenda sidang Dewan Rakyat Malaysia, Rabu (21/10) lalu/Foto : Dok. Istimewa

Malaysia, GPriority.co.id – Anggota parlemen Malaysia, Kalam Salan, menjadi sorotan setelah menyampaikan kritik terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang memicu kabut asap hingga melintasi perbatasan.

Dalam sidang Dewan Rakyat Malaysia, Rabu (21/10), politikus dari daerah pemilihan Sabak Bernam itu menggunakan bahasa Jawa untuk menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dikutip dari Tirto dan detikBali, Jumat  (23/10), Kalam sengaja menggunakan bahasa Jawa agar pesannya dapat dipahami oleh para pemimpin Indonesia. Ia meminta pemerintah segera memadamkan kebakaran hutan dan lahan serta mencegah persoalan kabut asap berulang setiap tahun.

“Assalamualaikum Pak Prabowo, pripun kabare? Paringi waras nggih?” ujar Kalam mengawali pesannya, yang berarti salam kepada Prabowo sekaligus doa agar sang presiden selalu sehat.

Dalam pernyataannya, Kalam menegaskan bahwa kabut asap tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat Malaysia.

“Pak, asap songko kobongan alas kuwi nggawe wong Malaysia susah arep ambegan. Akeh sing watuk, tenggorokane podho gatel, lan sesek ambegane,” katanya.

Dalam bahasa Indonesia, Kalam menyebut asap dari kebakaran hutan membuat warga Malaysia kesulitan bernapas. Banyak orang mengalami batuk, tenggorokan gatal, hingga sesak napas.
Ia juga menyoroti dampak kabut asap terhadap sektor pendidikan dan pariwisata.

Menurutnya, sekolah terpaksa ditutup, pariwisata menjadi sepi, dan pekerja perkebunan tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasa. Kondisi tersebut turut berdampak pada pekerja migran Indonesia yang mencari nafkah di Malaysia.

Kalam turut menyindir anggapan bahwa hutan Indonesia memasok oksigen bagi Malaysia. Ia mempertanyakan mengapa persoalan asap justru dianggap sepele ketika masyarakat negara tetangga turut menanggung dampaknya.

Sindiran tersebut disampaikan melalui pertanyaan, “Lha, alas Malaysia kuwi opo mong kok plastik, ora iso ngasilke oksigen?” yang berarti, apakah hutan Malaysia dianggap terbuat dari plastik sehingga tidak bisa menghasilkan oksigen?

Melalui kritik itu, Kalam menekankan bahwa persoalan kabut asap membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan yang meremehkan dampak pencemaran udara.

“Pak Prabowo, tulung masalah iki enggal ditangani. Kobongan alas kudu dipateni. Ojo meneh-meneh saben taun Malaysia lan Indonesia podho nandhang susah mergo asap,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah Indonesia segera menangani karhutla agar langit kembali cerah, udara bersih, dan masyarakat kedua negara dapat hidup sehat serta tenteram.

Kritik Kalam kembali menyoroti pentingnya pencegahan kebakaran, penegakan hukum, dan kerja sama regional untuk mengatasi kabut asap lintas batas yang terus menjadi tantangan bagi Indonesia dan negara-negara tetangga.