Tata Cara Puasa Arafah

Penulis : Haris | Editor : Lina F | Foto : dok.pribadi

Jakarta, GPriority.co.id- 9 Dzulhijjah, Umat Islam di seluruh dunia akan melaksanakan puasa Arafah.

Dijelaskan oleh Ustadz Marwansyah Munir, Puasa Arafah hukumnya sunah. Namun sangat dianjurkan bagi muslim yang tidak menunaikan ibadah Haji.

“Puasa Arafah (9 Zulhijah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharam) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”. (HR Muslim).

Lantas bagaimana tata caranya? Dijelaskan oleh Marwansyah Munir

1.Niat
Niat puasa Arafah bisa dalam hati maupun dilafazkan. Alangkah baiknya niat dilakukan saat malam hari sampai sebelum terbit fajar.

Namun apabila lupa membaca niat hingga pagi hari, kamu tetap bisa berpuasa sebelum melakukan hal-hal yang membatalkan.

Niat puasa Arafah di malam hari sampai sebelum terbit fajar:

Bacaan Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Bacaan Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Arafah lillahi ta’ala.

Artinya:
Aku berniat puasa sunah Arafah esok hari karena Allah SWT.

2.Sahur
Sama seperti puasa Ramadhan, sahur sangat dianjurkan sebelum puasa Arafah. Sahur bisa menjadi kebaikan dan keberkahan dalam menjalankan ibadah puasa.

Bagi seseorang yang tidak sahur karena terkendala sesuatu, tetap bisa menjalankan puasa dan dianggap sah.

3.Menjauhi Hal yang Membatalkan Puasa
Saat menjalankan puasa Arafah, detikers harus menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Seperti makan dan minum dengan sengaja, melakukan hubungan suami istri, muntah dengan sengaja, dan lain lain.

4.Menyegerakan Berbuka Puasa
Saat menjalankan puasa baik wajib maupun sunah, apabila sudah memasuki waktu berbuka harap menyegerakan berbuka puasa. Itu seperti yang dilakukan Rasulullah SAW.

Aisyah berkata: Siapa di antara mereka berdua yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur? Aku menjawab, ‘Abdullah bin Mas’ud’. Ia berkata ‘seperti itulah yang dahulu dikerjakan oleh Rasulullah’ (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, & Ibnu Majah)