Tren No Buy Challange 2025 Viral, Kritik PPN 12 Persen?

Tren No Buy Challenge 2025 Viral, Kritik PPN 12 Persen? Tren No Buy Challenge 2025 Viral, Kritik PPN 12 Persen?

Jakarta, GPriority.co.id – Di aplikasi TikTok, belakangan viral tren No Buy Challenge 2025.

Tren No Buy Challenge 2025 ternyata dibuat dengan bertujuan untuk mengatur keuangan ditengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil.

Dalam tren No Buy Challenge 2025, pengikutnya berhenti membeli barang-barang konsumtif. Diantaranya seperti :

  • Tidak membeli sepatu baru jika yang lama belum rusak,
  • Tidak membeli skincare baru jika yang lama belum habis,
  • Tidak membeli kopi secara rutin, kecuali ada event atau meeting,
  • Tidak membeli baju hanya karena mengikuti tren yang ada,
  • Tidak membeli makanan di luar,
  • Hanya berlangganan 1 aplikasi (diantara Netflix, Spotify, dll) dalam 1 periode.

Lalu, dari mana awal munculnya tren ini?

Kabarnya, tren No Buy Challenge 2025 pertama kali dicetuskan oleh TikTokers luar negeri.

Kemudian, tren ini semakin menjamur hingga diikuti oleh netizen di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, tren No Buy Challenge 2025 dikaitkan dengan bentuk kritik dari kenaikan PPN 12 persen.

Tren ini diramaikan di Indonesia agar ekonomi melambat dan mendorong pemerintah untuk dapat mengubah berbagai kebijakannya, terutama di bidang ekonomi.

Bukan Solusi yang Tepat?

Sayangnya, tren No Buy Challenge 2025 dirasa kurang tepat. Sebab, daya beli dan konsumsi masyarakat yang melemah dapat berdampak terhadap penurunan penjualan bahkan PHK.

Jika ekonomi melambat, alih-alih memberikan protes ke pemerintah justru dampaknya bisa ke seluruh lapisan masyarakat.

Namun, sama seperti frugal living, tren No Buy Challenge 2025 juga bisa membantu mengatur keuangan untuk gaya hidup yang lebih hemat.

Selain itu, tren ini juga dapat menghindari seseorang dari perilaku konsumtif yang tidak terlalu penting.

Disisi lain, tren No Buy Challenge 2025 juga dianggap sebagai bentuk dari de-influence. Dimana seseorang berhenti mengikuti standar media sosial serta tidak lagi membeli produk yang viral namun fungsinya tidak terlalu penting.

Foto : Ilustrasi/Freepik