Waspada “Balas Dendam” Makan Saat Lebaran, Risiko Penyakit Mengintai

Ilustrasi sakit perut. Foto : Freepik Ilustrasi sakit perut. Foto : Freepik

Jakarta, GPriority.co.id Peralihan dari pola makan saat Ramadan ke kebiasaan bersantap di momen Lebaran perlu dilakukan secara bertahap agar tidak memicu gangguan kesehatan.

Anggota Herbalife Nutrition Advisory Board, Prof. Dr. Rimbawan, mengingatkan bahwa perubahan pola makan yang drastis usai berpuasa selama sebulan dapat berdampak buruk bagi tubuh, terutama jika disertai konsumsi makanan berlebihan.

“Peralihan dari berpuasa ke bersantap dapat menjadi tantangan bagi kesehatan kita. Setelah mengakhiri puasa, banyak orang segera kembali pada kebiasaan makan sebelumnya, bahkan secara berlebihan seperti makan terlalu banyak serta mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak, gula, dan garam,” ujar Rimbawan dalam keterangan di Jakarta dikutip, Selasa (17/3).

Menurutnya, sistem pencernaan yang telah beradaptasi selama Ramadan belum tentu siap menerima makanan berat dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Kondisi ini berisiko memicu gangguan pencernaan seperti diare hingga meningkatkan potensi penyakit tidak menular.

Ia menjelaskan, lonjakan asupan makanan tinggi lemak dan gula saat Lebaran juga dapat memperbesar risiko obesitas, hipertensi, hingga penyakit jantung, terutama jika tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat.

Lebih lanjut, Rimbawan menyebut perubahan pola makan dan gaya hidup secara mendadak dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, termasuk diabetes, khususnya ketika kebiasaan makan berlebihan terjadi sepanjang masa libur Lebaran.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, masyarakat dianjurkan menerapkan pola makan bergizi seimbang secara bertahap. Asupan harian sebaiknya mencakup sayur, buah, karbohidrat, protein, serta lemak sehat.

Ia menekankan pentingnya protein dalam menjaga kesehatan tubuh, mulai dari membantu perbaikan jaringan, mengontrol nafsu makan, hingga mempertahankan massa otot.

Selain menjaga pola makan, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki juga disarankan tetap dilakukan selama libur Lebaran.

Pengendalian porsi makan serta berhenti sebelum merasa terlalu kenyang menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan.

Rimbawan juga mengingatkan pentingnya menjaga hidrasi, kualitas tidur, serta pengelolaan stres. Nutrisi seperti asam lemak omega-3, vitamin D, dan antioksidan dinilai berperan dalam menjaga kesehatan fisik sekaligus mental.

Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar saat Lebaran adalah sulit menolak hidangan khas yang umumnya tinggi lemak dan gula. Namun, masyarakat tetap dapat menyiasatinya dengan memilih alternatif yang lebih sehat.

“Pertahankan gaya hidup sehat dan nikmati Lebaran secara seimbang untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Gaya hidup sehat juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup serta membuat kita lebih produktif,” kata Rimbawan.