Jakarta, GPriority.co.id – Founder Santri Motivator School sekaligus mahasiswa Program Doktoral Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Ustaz Asroni Al Paroya, menilai puasa bukan sekadar ibadah ritual, melainkan revolusi ruhani yang dapat menjadi fondasi perdamaian dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan global dan rivalitas kekuatan besar, Ustaz Asroni mengingatkan bahwa perang tidak semata-mata lahir dari kecanggihan senjata, tetapi berakar dari krisis nilai dalam diri manusia.
“Karena itu, solusi paling mendasar untuk mencegah Perang Dunia ke-3 bukan hanya diplomasi dan aliansi militer, tetapi kebangkitan spiritualitas manusia,” kata Ustaz Asroni kepada GPriority, Minggu (1/3).
Menurutnya, puasa merupakan madrasah ruhani yang melatih manusia menahan lapar dan dahaga sekaligus menyucikan hati dari keserakahan, kebencian, serta ambisi berlebihan. Dalam ajaran Islam, kata dia, tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan atau kesadaran ilahiah yang mendorong manusia menjauhi kezaliman dan menebarkan rahmat.
Ia merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menegaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa.
“Ketika ketakwaan menjadi karakter kolektif suatu bangsa, maka agresi berubah menjadi empati, dan dominasi berubah menjadi pelayanan,” tuturnya.
Spiritualitas dan Kepemimpinan
Ustaz Asroni juga menekankan pentingnya spiritualitas dalam kepemimpinan nasional. Ia menilai pemimpin yang kuat bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling jernih nuraninya.
Sejarah, lanjutnya, menunjukkan bahwa kekuatan spiritual mampu meredam konflik besar. Ia mencontohkan perjuangan Abdul Ghaffar Khan yang mengedepankan gerakan non-kekerasan berbasis nilai Islam, serta Martin Luther King Jr, yang menggerakkan perubahan sosial melalui moralitas dan iman.
Dia menilai Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat spiritualitas dunia. Sebagai bangsa religius dan berbudaya, Indonesia dinilai mampu menawarkan paradigma baru berupa politik yang dituntun nurani, ekonomi berkeadilan, serta diplomasi berlandaskan kasih sayang.
“Jika hati manusia dikuasai nafsu, maka teknologi menjadi alat kehancuran. Namun jika hati disinari iman, teknologi menjadi sarana kemaslahatan. Puasa mengembalikan manusia pada kesadaran terdalam bahwa kekuasaan sejati adalah menguasai diri sendiri,” jelas Ustaz Asroni.
Ia pun mengajak agar momentum Ramadan dimaknai sebagai refleksi kemanusiaan global. Menurutnya, jika para pemimpin dunia mampu ‘berpuasa’ dalam arti menahan ego, amarah, dan kerakusan, maka konflik dapat dicegah tanpa harus melalui peperangan.
Ustaz Asroni menyerukan peningkatan spiritualitas sebagai agenda nasional dan global melalui penguatan pendidikan karakter, pembangunan budaya dialog, serta penumbuhan kepemimpinan yang lahir dari kesadaran ilahiah.
“Spiritualitas bukan pelarian dari realitas. Spiritualitas adalah energi terdalam yang menyelamatkan realitas,” pungkasnya.
