Jakarta, GPriority.co.id – Selama hampir lima dekade, psikolog Harvard University Dr. Ellen Langer meneliti hubungan antara pikiran, persepsi, dan kondisi tubuh. Penelitiannya memperkuat gagasan bahwa pikiran dan tubuh tidak sepenuhnya dapat dipisahkan, meski temuan tersebut tidak berarti berpikir positif dapat menyembuhkan semua penyakit.
Langer dikenal sebagai salah satu pelopor penelitian mindfulness. Laboratorium Langer di Harvard meneliti kesehatan, kebahagiaan, pengambilan keputusan, hingga perilaku manusia melalui perspektif mindfulness. Harvard bahkan menyebutnya sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam perkembangan bidang tersebut.
Dalam wawancara dengan Harvard Gazette, Langer menjelaskan konsep yang menjadi dasar penelitiannya, yakni mind-body unity atau kesatuan pikiran dan tubuh.
“Gagasannya adalah menyatukan kembali pikiran dan tubuh. Di mana pun kita menempatkan pikiran, di situ pula kita menempatkan tubuh,” ujar Langer.
Menurutnya, manusia sering menjalani kehidupan secara otomatis tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Langer menyebut kondisi tersebut sebagai mindlessness, kebalikan dari mindfulness.
“Konsekuensi dari tidak sadar sepenuhnya sangat besar. Ketika kita tidak sadar, kita tidak mampu memanfaatkan peluang yang muncul, tidak mampu menghindari bahaya yang belum terjadi, dan kita tidak benar-benar hadir dalam kehidupan kita,” katanya.
Temuan yang lebih baru kembali memperlihatkan hubungan antara persepsi dan respons fisik. Dalam penelitian yang dipimpin Langer bersama Peter Aungle, peneliti menguji apakah persepsi seseorang mengenai berlalunya waktu dapat memengaruhi proses penyembuhan memar.
Hasilnya, peserta yang dibuat merasa waktu telah berlalu lebih lama menunjukkan memar yang dinilai lebih cepat memudar dibandingkan kondisi ketika waktu terasa lebih singkat. Harvard menyebut penelitian tersebut sebagai bukti pertama mengenai efek psikologis semacam itu terhadap proses penyembuhan fisik.
Namun, temuan ini tidak boleh diterjemahkan menjadi anggapan bahwa pikiran dapat menggantikan pengobatan medis. Penelitian Langer lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa persepsi, kondisi psikologis, dan proses tubuh memiliki hubungan yang kompleks.
Langer sendiri mengingatkan bahwa pendekatan berbasis pikiran sebaiknya digunakan sebagai tambahan, bukan pengganti, terhadap pengobatan yang diperlukan.
Dengan demikian, menjaga kesehatan bukan hanya soal tubuh, tetapi juga bagaimana seseorang memperhatikan lingkungan, mengelola stres, membangun kebiasaan sehat, dan menyadari pengalaman yang sedang dijalani.
