Rupiah Melemah, Harga Mobil Chery dan BYD Terancam Naik?

Jejaran mobil Chery Tiggo. Foto: istimewa Jejaran mobil Chery Tiggo. Foto: istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Produsen otomotif asal China mulai mewaspadai dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap industri kendaraan di Indonesia.

Chery dan BYD mengakui tengah mengkaji berbagai kemungkinan, termasuk potensi penyesuaian harga kendaraan di pasar nasional.

Kondisi ekonomi global yang belum stabil serta meningkatnya biaya operasional dan produksi disebut menjadi faktor utama yang mulai diperhitungkan oleh para produsen otomotif.

Country Director Chery Sales Indonesia (CSI) Zeng Shuo mengatakan pihaknya masih melakukan kalkulasi terkait dampak kenaikan biaya terhadap harga jual kendaraan Chery di Indonesia.

“Kita juga lagi lihat karena sekarang salah satu alasannya semua biaya lagi naik jadi ada faktor itu juga. Kita lagi coba kalkulasi, tapi kalau biaya tetap naik ada kemungkinan harganya naik juga,” ujar Zeng saat ditemui di Jakarta, Senin (18/5) malam.

Di sisi lain, BYD Motors Indonesia mengaku telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi situasi ekonomi saat ini. Meski belum berencana menaikkan harga dalam waktu dekat, perusahaan tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian di masa depan.

Kepala Hubungan Masyarakat dan Pemerintah PT BYD Motors Indonesia Luther Panjaitan menegaskan pihaknya masih optimistis dengan strategi bisnis yang diterapkan saat ini.

“Kalau ditanya potensi (kenaikan harga) mungkin saja, tapi saat ini tidak dalam strategi jangka pendek kami,” kata Luther.

Menurutnya, situasi ekonomi global dan ketegangan geopolitik saat ini menjadi tantangan serius bagi industri otomotif, termasuk pasar kendaraan listrik di Indonesia.

Kata dia, pihaknya telah membuat tim khusus yang memang khusus mengurusi soal dinamika ekonomi yang ada di Indonesia.

BYD menilai daya beli masyarakat menjadi faktor paling krusial dalam menjaga pertumbuhan industri otomotif nasional. Kondisi ekonomi yang menekan masyarakat dinilai dapat berdampak luas terhadap seluruh segmen kendaraan, baik listrik maupun konvensional.

“Jadi sudah tidak berbicara lagi EV, ICE atau hybrid, tapi kalau daya beli yang terpukul tentunya secara keseluruhan dari industri,” lanjutnya.