Mampukah AI Gantikan Peran Pilot Pesawat Terbang?

Ilustrasi pesawat terbang/Foto : Dok. AFP Ilustrasi pesawat terbang/Foto : Dok. AFP

Jakarta, GPriority.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali memicu perdebatan besar di industri penerbangan setelah sejumlah perusahaan teknologi dan lembaga militer mulai menguji sistem penerbangan otonom tanpa kendali penuh pilot manusia.

Eksperimen terbaru ini memunculkan pertanyaan besar: apakah AI benar-benar bisa menggantikan pilot pesawat di masa depan?

Dilansir dari laporan The New York Post, salah satu sorotan datang dari perusahaan teknologi penerbangan Merlin Labs yang baru-baru ini menguji sistem AI bernama Merlin Pilot pada pesawat Cessna Caravan.

Dalam demonstrasi tersebut, sistem AI mampu membantu navigasi, komunikasi radio dengan menara kontrol, hingga proses pendaratan. Uji coba itu disebut sebagai langkah besar menuju otomatisasi penerbangan modern.

Selain sektor sipil, militer Amerika Serikat juga terus mengembangkan teknologi serupa. Dalam laporan Defense One, pilot uji Angkatan Udara AS menggunakan AI pada jet eksperimental X-62A Vista untuk melakukan manuver menghindari serangan rudal secara otomatis.

Teknologi itu dinilai mampu meningkatkan respons pesawat dalam situasi tempur berkecepatan tinggi.

Meski teknologi berkembang pesat, banyak pakar penerbangan menilai AI belum dapat sepenuhnya menggantikan manusia di kokpit.

Sistem autopilot modern memang sudah menangani sebagian besar perjalanan pesawat komersial, namun keputusan kritis saat kondisi darurat masih membutuhkan pengalaman dan intuisi pilot manusia.

Mantan pilot Qantas, Richard Champion de Crespigny, bahkan memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada otomatisasi justru dapat memperumit situasi saat terjadi krisis penerbangan.

Menurutnya, pilot tetap dibutuhkan untuk mengambil keputusan cepat ketika sistem digital mengalami kegagalan.

Di sisi lain, industri penerbangan global sedang menghadapi kekurangan pilot dalam jumlah besar. Boeing memperkirakan dunia membutuhkan lebih dari 600 ribu pilot baru dalam 20 tahun ke depan.

Kondisi ini membuat teknologi AI dianggap sebagai solusi potensial untuk membantu operasional maskapai dan mengurangi beban kerja pilot.

Perdebatan juga ramai terjadi di komunitas penerbangan online.

Banyak pilot dan penggemar aviasi di Reddit menilai pesawat tanpa pilot penuh masih sulit diterapkan karena faktor keamanan, regulasi, hingga kepercayaan penumpang.

Sebagian besar percaya AI hanya akan menjadi alat bantu, bukan pengganti total manusia di kokpit.

Para ahli memperkirakan penggunaan AI di masa depan kemungkinan lebih difokuskan pada sistem pendukung keputusan, navigasi otomatis, dan operasi satu pilot terlebih dahulu sebelum benar-benar menuju pesawat komersial tanpa awak.

Hingga saat ini, regulator penerbangan internasional juga belum memberikan izin untuk operasi penuh tanpa pilot manusia.