Jakarta, GPriority.co.id – Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Indonesia. Aktor sekaligus komedian senior Diding Boneng meninggal dunia pada Senin (3/8). Seniman bernama asli Zainal Abidin Zetta itu mengembuskan napas terakhir pada usia 76 tahun.
Kabar meninggalnya Diding Boneng pertama kali disampaikan melalui unggahan Sanggar Perkasa, tempat almarhum dikenal aktif berbagi ilmu dan pengalaman kepada generasi muda. Unggahan tersebut kemudian dikonfirmasi dan diberitakan oleh sejumlah media nasional.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Keluarga besar @sanggar_perkasa turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya opa @didingasli,” tulis Sanggar Perkasa.
Sanggar Perkasa juga mengenang Diding Boneng sebagai sosok seniman yang tidak hanya berkarya di depan layar, tetapi turut memberikan semangat dan inspirasi kepada anak-anak binaan.
“Terima kasih atas segala ilmu, pengalaman, semangat, dan inspirasi yang telah oppa Diding berikan kepada anak-anak Sanggar Perkasa. Kebaikan serta dedikasi Bung dalam berbagi ilmu akan selalu menjadi bagian dari perjalanan dan kenangan kami,” lanjut pernyataan tersebut.
Hingga berita ini ditulis, pihak keluarga belum menyampaikan keterangan resmi mengenai penyebab meninggalnya Diding Boneng. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, aktor senior tersebut diketahui sempat berjuang melawan penyakit asma dan menjalani perawatan di rumah sakit. Riwayat penyakit itu belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung meninggalnya Diding Boneng.
Diding Boneng merupakan seniman senior yang telah lama berkecimpung di dunia hiburan Indonesia. Ia mengawali perjalanan kariernya dari dunia teater pada 1973, sebelum dikenal luas melalui berbagai film, sinetron, serta pertunjukan komedi.
Sepanjang kariernya, Diding tampil dalam sejumlah produksi layar lebar dan televisi. Salah satu karya yang kembali memperkenalkan sosoknya kepada penonton generasi baru adalah film Badarawuhi di Desa Penari. Kiprahnya yang panjang membuat Diding menjadi salah satu figur senior yang memiliki pengalaman luas dalam seni peran.
Ciri khas Diding Boneng terletak pada penampilannya yang sederhana, ekspresi wajah yang kuat, serta gaya komedi yang natural. Karakter dan pembawaannya membuat ia mudah dikenali, baik saat tampil sebagai tokoh pendukung maupun ketika menghidupkan adegan bernuansa humor.
Di akhir unggahannya, Sanggar Perkasa menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhum.
“Selamat jalan, Bung, Abang, Opa, Diding. Jasa dan ilmu yang telah Bung titipkan akan terus hidup dalam setiap langkah dan karya anak-anak Sanggar Perkasa.”
Kepergian Diding Boneng meninggalkan duka bagi dunia seni Indonesia. Meski telah berpulang, karya, pengalaman, dan ilmu yang diwariskannya diyakini akan terus dikenang oleh rekan sesama seniman serta generasi muda yang pernah mendapat inspirasi darinya.
