Sangatta, GPriority.co.id – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sekaligus memperkuat kesiapsiagaan layanan kesehatan selama kondisi kualitas udara memburuk.
Peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian karena kabut asap berpotensi memperburuk gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. Berdasarkan laporan Dinkes Kutim, tren kasus ISPA sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mengalami peningkatan, dengan kenaikan yang mencolok pada Mei ketika aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat.
Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan paparan asap karhutla berkaitan dengan gangguan kesehatan seperti sesak napas.
“Tren kasus dari Januari hingga Agustus ini menunjukkan adanya kenaikan yang cukup mencolok, terutama pada Mei lalu seiring terjadinya karhutla. Kondisi ini memicu berbagai gangguan kesehatan, khususnya peningkatan kasus ISPA,” ujar Yuwana.
Kondisi udara di Kutim juga menjadi perhatian. Pada Rabu (16/9) pukul 19.05 WITA, indeks kualitas udara tercatat mencapai 165, yang masuk kategori tidak sehat. Sehari berikutnya, indeks berada di angka 114 dan masih dikategorikan tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Dinkes Kutim kemudian mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kelompok yang dinilai lebih rentan meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan indeks kualitas udara kita berada di angka 165 atau kategori tidak sehat. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, khususnya kelompok sensitif,” ujar Yuwana.
Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker yang memberikan perlindungan terhadap partikulat, seperti N95. Dinkes juga meminta warga memperbanyak konsumsi air putih dan segera memeriksakan diri jika mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, atau nyeri dan rasa tertekan di dada.
Untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan pelayanan akibat kabut asap, fasilitas kesehatan juga disiagakan agar masyarakat dapat memperoleh penanganan ketika mengalami gangguan kesehatan.
Di tengah kondisi tersebut, Pemkab Kutim turut mengambil langkah di sektor pendidikan. Kegiatan belajar mengajar tatap muka di seluruh satuan pendidikan dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai 18 September 2026. Kebijakan itu diterapkan untuk mengurangi paparan kabut asap terhadap siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Kepala Disdikbud Kutim Mulyono mengatakan, “Kami mengimbau kepada seluruh orang tua atau wali murid agar mengawasi dan membatasi putra-putrinya untuk tetap berada di rumah, tidak melakukan aktivitas di luar ruangan selama masa pembelajaran daring berlangsung guna meminimalisir paparan kabut asap, serta tetap disiplin menerapkan pola hidup sehat.”
Kondisi kabut asap di Kutim menjadi perhatian karena kualitas udara yang memburuk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Warga diminta memantau perkembangan kualitas udara dan membatasi paparan hingga kondisi kembali membaik.
