Jakarta, GPriority.co.id – Menguasai lebih dari satu bahasa ternyata berkaitan dengan proses penuaan otak yang lebih lambat.
Studi terbaru yang melibatkan ratusan orang di Spanyol menemukan bahwa aktivitas otak pada individu yang menguasai beberapa bahasa dapat terlihat lebih muda dibandingkan mereka yang hanya menggunakan satu bahasa.
Penelitian yang dipaparkan dalam forum Federation of European Neuroscience Societies (FENS) tersebut melibatkan 728 orang dari wilayah Basque, Spanyol, yang menguasai hingga empat bahasa. Para peneliti menggunakan alat untuk merekam aktivitas sel-sel otak peserta, kemudian menganalisis data tersebut untuk memperkirakan usia otak atau brain age.
Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan usia otak yang cukup mencolok. Orang yang menguasai dua bahasa memiliki aktivitas otak yang diperkirakan sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan mereka yang hanya menggunakan satu bahasa.
Pada peserta yang menguasai tiga bahasa, perbedaannya mencapai sekitar tujuh tahun. Sementara mereka yang menguasai empat bahasa menunjukkan aktivitas otak yang terlihat hingga 13 tahun lebih muda.
Namun, jumlah bahasa bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan usia otak. Kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa serta usia ketika mulai mempelajari bahasa kedua juga turut diperhitungkan.
Ketua kelompok penelitian dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián, Lucia Amoruso, mengatakan pengalaman menggunakan banyak bahasa menunjukkan pengaruh yang bertahap.
“Pengalaman menggunakan banyak bahasa memiliki pengaruh yang bertahap. Artinya, manfaat tersebut berkaitan dengan apakah seseorang dapat berbicara dua bahasa atau tidak, serta seberapa lama dan seberapa baik bahasa tersebut digunakan,” ujar Amoruso.
Para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut tidak berarti kemampuan berbahasa menjadi satu-satunya penyebab penuaan otak berlangsung lebih lambat. Gaya hidup dan aktivitas sosial juga dapat memengaruhi kesehatan otak seseorang. Dengan demikian, hasil penelitian lebih tepat dipahami sebagai hubungan antara kemampuan multilingual dan indikator usia otak, bukan bukti sebab-akibat langsung.
Profesor Christina Dalla dari Medical School of the National and Kapodistrian University of Athens, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan belajar bahasa lain dapat memberikan manfaat dalam berbagai aspek.
“Belajar bahasa lain memiliki manfaat dalam aspek sosial, budaya, dan kesehatan otak,” kata Dalla.
Penelitian berikutnya akan mengkaji apakah kombinasi bahasa tertentu memberikan pengaruh berbeda terhadap aktivitas otak. Peneliti juga ingin mengetahui bagaimana kemampuan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain berkaitan dengan fungsi otak.
Temuan ini menambah bukti ilmiah mengenai hubungan multilingualisme, kesehatan otak, dan penuaan otak, meski penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami mekanisme hubungan tersebut secara lebih mendalam.
