Menkes RI: 4.000 Ibu dan 30.000 Bayi Meninggal Setiap Tahun

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sekitar 4.000 ibu dan 30.000 bayi meninggal setiap tahun di Indonesia./Foto : Dok. Tangkapan Layar YouTube Kemenkes RI Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sekitar 4.000 ibu dan 30.000 bayi meninggal setiap tahun di Indonesia./Foto : Dok. Tangkapan Layar YouTube Kemenkes RI

Jakarta, GPriority.co.id – Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih menjadi perhatian pemerintah. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sekitar 4.000 ibu dan 30.000 bayi meninggal setiap tahun di Indonesia. Persoalan tersebut juga menjadi tantangan dalam upaya memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Pernyataan itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/9). Ia menilai angka kematian ibu dan bayi Indonesia masih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN.

“Kematian bayi kan 30 ribu setahun. Ibu meninggal itu 4 ribu setahun. Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya,” ujar Budi.

Budi juga menyoroti kondisi di Jawa Barat yang disebut memiliki angka kematian ibu dan bayi tinggi. Menurut dia, persoalan tersebut ditemukan di sejumlah rumah sakit, termasuk rumah sakit dengan status paripurna.

“Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi angkanya, dan itu terjadi di rumah sakit paripurna, ya,” katanya.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Kementerian Kesehatan adalah infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan. Budi mengatakan pemerintah tengah memperbaiki tata kelola kebersihan rumah sakit untuk mencegah kematian yang berkaitan dengan infeksi.

“Ada kabupaten yang ini, dan kita lihat rumah sakitnya kenapa meninggal? Karena banyak infeksi. Jadi cara mereka menata kebersihan rumah sakitnya itu tidak bagus. Nah, itu yang sekarang sedang kita perbaiki,” ungkap Budi.

Sementara itu, angka kematian ibu sebesar 189 per 100.000 kelahiran hidup merupakan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020. Data tersebut sebelumnya kerap digunakan untuk menggambarkan tingginya angka kematian ibu Indonesia.

Berdasarkan data terbaru BPS dari Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, angka kematian ibu Indonesia telah turun menjadi 144 per 100.000 kelahiran hidup, dari sebelumnya 189 pada LF SP2020.

Bappenas menyebut penurunan tersebut menunjukkan adanya perbaikan, tetapi kesenjangan antarwilayah dan kapasitas sistem kesehatan masih menjadi tantangan. Pemerintah pun telah meluncurkan Kerangka Kerja Nasional Penurunan Kematian Ibu dan Anak 2026–2030 untuk mempercepat upaya penurunan kematian ibu dan anak.

Dengan demikian, angka 189 per 100.000 kelahiran hidup tetap relevan sebagai gambaran kondisi Indonesia pada 2020, sedangkan angka 144 per 100.000 merupakan indikator nasional terbaru berdasarkan SUPAS 2025.